Interaksi Orang Tua Terhadap Anak


DALIL HADITS TENTANG INTERAKSI/SIKAP ORANG TUA TERHADAP ANAK

a)      Hadits Kesatu

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Terjemahan:

Nabi s.a.w. bersabda: “Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami), ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala), seperti binatang yang melahirkan binatang, apakah kamu melihat unta disana?”. (H.R. Bukhari, Nomor 1296)[1]

b)     Hadits Kedua

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ

Terjemahan:

Dari ‘Abdullah berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Beliau menjawab, “Kamu menciptakan sesamamu, padahal Dia yang telah menciptakanmu”, Aku berkata,Kemudian apa?”, Beliau menjawab, “Kamu membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu”, “Kemudian apa?”, Beliau menjawab, “Kamu berhias dengan perhiasan tetanggamu”. (H.R. Bukhari, Nomor 5542)[2]

c)      Hadits Ketiga

سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ

Terjemahan:

Aku mendengar Anas bin Malik memberi hadits dari Rasulullah s.a.w., Beliau bersabda: “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah akhlak mereka”. (H.R. Ibnu Majah, Nomor 3661)[3]

d)     Hadits Keempat

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Terjemahan:

Bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Termasuk akhlak yang paling baik ialah orang tua tidak menjadikan anaknya kurus”. (H.R. Al-Tirmidzi, Nomor 1875)[4]

e)      Hadits Kelima

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

Terjemahan:

Dari Samuroh bin Jundub, dari Rasulullah s.a.w., Beliau bersabda: “Tiap anak itu tergadaikan dengan meng-aqiqah-kannya pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya, dan diberi nama”. (H.R. Al-Nasa’i, Nomor 4149)[5]

f)       Hadits Keenam

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ سَوَّارٍ الْمُزَنِيُّ بِإِسْنَادِهِ وَمَعْنَاهُ وَزَادَ وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ عَبْدَهُ أَوْ أَجِيرَهُ فَلَا يَنْظُرْ إِلَى مَا دُونَ السُّرَّةِ وَفَوْقَ الرُّكْبَةِ

Terjemahan:

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perintahlah anak-anakmu melakukan sholat disaat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan sholat disaat berumur 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka”. Zuhair bin Harb meriwayatkan, Waki’ meriwayatkan, Dawud bin Sawwar al-Muzanniy meriwayatkan kepadaku melalui sanadnya dan maknanya, dan ia menambahkan, “Dan jika seseorang dari kalian menikahkan pelayannya dengan pelayannya atau pembantunya, maka hendaknya ia tidak melihat kepada selain pusar dan diatas lutut”. (HR. Abu Dawud, Nomor 418)[6]

g)      Hadits Ketujuh

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

Terjemahan:

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdosa dengan ia menyia-nyiakan orang yang dia tanggung (nafkahi)”. (HR. Abu Dawud, Nomor 1442)[7]


[1] Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari, Al Jami’ al Shahih (Shahih Bukhari), (Beirut: Dar al-Fikr, 1980)

[2] Abu Abdillah bin Ismail al-Bukhari, Al Jami’ al Shahih (Shahih Bukhari), (Beirut: Dar al-Fikr, 1980)

[3] Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwaini, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983)

[4] CD Al-Maktabah al-Syamilah

[5] Abdul Rahman Ahmad bin Syuaib al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’i, (Beirut: Dar al-Fikr, 1985)

[6] Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sajastani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981)

[7] Sulaiman bin al-Asy’ats al-Sajastani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Fikr, 1981)

Advertisements

Kritik atau sarannya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s