STUDI PEMIKIRAN HASAN LANGGULUNG

  1. Pendahuluan

Kemajuan pendidikan di Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran sejumlah tokoh penting yang menyumbangkan ide-ide luar biasa dalam semangat pembangunan masa depan generasi penerus bangsa. Minimnya kesempatan Islam untuk unjuk gigi dalam pendidikan kolonial warisan Belanda tidak serta merta menyurutkan potensi besar anak bangsa dalam gerakan pembaharuan pendidikan Islam ke depan. Berkat usaha tiada kenal lelah, sedikit demi sedikit, eksistensi pendidikan Islam bagi masyarakat Indonesia semakin mendapatkan ruang yang luas bagi perkembangannya.

Pendidikan Islam di Indonesia semakin mendapat peran berarti seiring munculnya tokoh-tokoh pembaharu pendidikan. Konsep dan pemikiran berbagai aspek pendidikan dari mereka mampu memberikan opsi utama bagi para stake holder di lembaga pendidikan, khususnya pendidikan Islam, guna peningkatan kualitas pendidik, peserta didik maupun metode pembelajarannya. Salah satu pemikir dan pembaharu tersebut ialah Hasan Langgulung.

 

  1. Latar Belakang Kehidupan Hasan Langgulung

Hasan Langgulung adalah putra kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, Indonesia pada tanggal 16 Oktober 1934. Ia memulai sekolah formal di sekolah dasar di desa kelahirannya (Rappang). Kemudian ia melanjutkan menengah Islam di Ujung Pandang pada tahun 1942-1952. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Ujung Pandang, ia meneruskan studinya ke sekolah Guru Islam Atas, juga di Ujung Pandang pada tahun 1952-1955 dan B.I di Ujung Pandang pada tahun 1957-1962.[1]

Hasan Langgulung merupakan seorang pemuda Indonesia yang haus akan ilmu pengetahuan terus dan terus belajar. Tak puas dengan ilmu yang telah diperoleh, ia kemudian melanjutkan studi di Ein Syam University, Cairo tahun 1963-1964 untuk mendapatkan gelar Diploma of Education. Pada tahun yang sama (1964) ia juga memperoleh gelar Diploma dalam bahasa Arab modern dari Institut of Higer Arab Studies, Arab League (Cairo). Ia kemudian melanjutkan studi pada program pascasarjana di Ein Syam University, Cairo pada tahun 1967 dan memperoleh gelar M.A dalam bidang psikologi dan mental hygiene. Pada tahun 1971, ia memperoleh gelar Ph.D dalam bidang psikologi dari Universitas Georgia, Amerika Serikat.[2]

 

  1. Konsep Pendidikan Hasan Langgulung
    • Falsafah Pendidikan Islam

Falsafah pendidkan Islam bersumber dari falsafah hidup Islam. Falsafah hidup Islam mencakup kebenaran yang bersifat spekulatif dan praktikal yang dapat menolong untuk menafsirkan tentang manusia, sifat-sifatnya, nasib kesudahannya, dan keseluruhan hakikat. Ia didasarkan di atas prinsip-prinsip awal atau tertinggi, dan tidak berubah yang memiliki norma-norma yang tidak akan bertakluk pada kesalahan-kesalahan bagi tingkah laku individu dan masyarakat. Dari pandangan manusia dan dunia, malah keseluruhan realitas, muncullah falsafah hidup, yang juga berarti falsafah pendidikan.[3]

Di atas dasar inilah segala falsafah pendidikan yang betul harus dibina. Falsafah pendidikan Islam menentukan tujuan akhir, maksud, objektif, nilai-nilai, dan cita-cita yang telah ditentukan lebih dahulu oleh falsafah hidup Islam dan dilaksanakan oleh proses pendidikan. Falsafah Islam meletakkan prinsip-prinsip, norma-norma yang menguasai keseluruhan skop pendidikan.[4] Ini semua memerlukan pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar Islam tentang:

  • Kejadian manusia menurut pandangan Islam dan tujuan hidupnya.
  • Sifat-sifat semula jadi manusia yang merupakan sebagian sifat-sifat Tuhan.
  • Keadaan amanah dan khalifah manusia di atas bumi ini.
  • Perjanjian antara Tuhan dan umat manusia.

 

  • Pemikiran Tentang Pendidikan Islam

Dari tiga term yang digunakan para ahli untuk menunjukkan istilah pendidikan Islam, yaitu: ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib, Hasan Langgulung lebih cendrung menggunakan kata ta’dib untuk menunjukkan makna pendidikan Islam. Menurutnya kata itu lebih tepat digunakan karena mempunyai arti proses mendidik  yang lebih tertuju kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak dan budi pekerti atau dalam arti kata penumbuhan semangat agama dan akhlak. Pandangannya tersebut merujuk pada hadits Nabi s.a.w.[5] yang artinya: “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku”. (H.R. Al-‘Asykari dari Ali RA).

Beliau juga merujuk firman Allah s.w.t. pada surat al-Baqarah ayat 31 yang artinya: ”Dan Allah telah mengajarkan kepada Adam segala sesuatu, kemudian Allah berkata kepada malaikat;”Beritahukanlah pada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu benar”.”

 

  • Tujuan Pendidikan

Tujuan merupakan sesuatu yang esensial bagi kehidupan manusia. Dengan adanya tujuan semua aktivitas dan gerak manusia menjadi lebih dinamis, terarah, dan bermakna. Di saat berbicara tentang tujuan pendidikan, tak boleh tidak membawa untuk berbicara tentang tujuan hidup manusia. Manusia diciptakan Allah dan diberi tugas untuk memikul amanah di permukaan  bumi. Tujuan pendidikan itu hendaknya sesuai dengan proses yang membentuk pandangan Islam terhadap pendidikan.[6]

Hasan Langgulung mengatakan proses itu adalah: 1) Generasi muda hendaklah dididik menyembah Allah, dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. 2) Generasi muda harus dididik hidup dalam masyarakat yang mengakui prinsip kerjasama, persaudaraan, dan persamaan. 3) Generasi baru harus dididik menggunakan akal. 4) Generasi baru harus dididik bersifat terbuka dan menjauhi sifat menyendiri tanpa menonjolkan diri. 5) Generasi mudah harus dididik menggunakan pemikiran ilmiah.

Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan hendaknya sesuai dengan tujuan  pendidikan yang diinginkan. Dalam hal ini, ia membagi sumber ilmu pengetahuan itu kepada empat sumber yaitu panca indera, akal, intuisi, dan ilham.

Setelah melihat pandangan diatas, bahwa tujuan pendidikan itu merupakan suatu alat untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dan tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai Hasan Langgulung yaitu keseimbanganpertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui pelatihan jiwa, akal, fikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.[7]

 

  • Kurikulum Pendidikan

Secara umum Hasan Langgulung berpandangan bahwa kurikulum pendidikan dalam Islam bersifat fungsional, tujuannya mengeluarkan dan membentuk manusia muslim, kenal agama dan Tuhannya, berakhlak Al Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu dan mendorong dan mengembangkan kehidupan ke situ, melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.[8]

Kurikulum atau isi pendidikan sebagaimana hendaknya mencakup materi yang berkaitan dengan pengembangan aspek fitrah, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif  yang dilakukan secara seimbang. Selain itu, materi pendidikan juga mencakup ilmu pengetahuan umum dan nilai-nilai agama. Dengan cara demikian, maka peserta didik akan mampu menjawab tantangan zaman yang timbul dalam kehidupan. Untuk itu setiap peserta didik harus  membuka diri untuk menerima ilmu pengetahuan umum tanpa mengabaikan nilai-nilai agama.[9]

 

  • Metode Pendidikan

Berdasarkan pada pandangan tentang psikologi manusia yang sejalan dengan ajaran Islam, maka metode pendidikan juga  pada prinsipnya harus sesuai dengan jiwa manusia. Dalam psikologi dikatakan, bahwa manusia adalah makhluk multidimensional dan multitalented. Manusia adalah makhluk yang suka meniru, suka pada cerita, suka mencoba-coba, suka ingin tahu, suka pada keindahan, suka pada upacara, dan lain sebagainya. Di samping ciri-cri kejiwaan yang positif itu terdapat pula ciri-ciri kejiwaan yang kurang positif, seperti rasa enggan, rasa membangkang, cepat bosan dan sebagainya. Berbagai kecendrungan dan rasa suka manusia ini agar diberdayakan dalam proses belajar mengajar. Untuk itu dalam kegiatan mengajar atau metode pendidikan agar menggunakan berbagai metode yang sejalan dengan jiwa manusia, seperti metode ceramah, tanya jawab, kisah, cerita, dramatisasi pertunjukan, dan lain sebagainya. Dengan berbagai metode tersebut, maka diharapkan tidak akan terjadi kebosanan dalam menerima pelajaran.[10]

Selain itu, dalam hal metodologi juga agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, metode yang digunakan harus berkaitan dengan tujuan pendidikan pendidikan untuk membina peserta didik. Kedua, metode yang digunakan agar benar-benar berlaku sesuai Al Qur’an dan Al Sunnah. Ketiga, bagaimana seorang guru menggerakan peserta didik untuk senantiasa disiplin dalam belajar. Keempat, agar memilih dan menerapkan metode yang memiliki relevansi dan sekaligus menunjang bagi tercapainya tujuan yang dirumuskan sesuai dengan asas-asas pendidikan.[11]

 

  • Asas-asas Pendidikan

Agar tujuan, muatan, dan metode pendidikan tersebut dapat berjalan dengan baik, maka pendidikan perlu memiliki asas-asas yang kuat. Dalam hubungan ini terdapat beberapa asas yang dimajukan oleh Hasan Langgulung, antara lain:

Pertama, asas-asas historis yaitu asas yang berkaitan dengan pengalaman positif umat di masa lalu dalam bidang pendidikan yang masih relevan untuk diterapkan. Kedua, asas sosiologis yaitu asas yang berkaitan dengan kesesuaian antara pendidian yang diberikan dengan keadaan dan perkembangan masyarakat. Ketiga, asas ekonomi yaitu agar penyelenggaraaan pendidikan dapat disesuaikan  dengan keadaan ekonomi masyarakat. Keempat, asas politik yaitu agar materi yang diajarkan tidak bertentangan dengan tujuan dan filsafat serta ideologi yang dianut oleh masyarakat. Kelima, asas psikologi yaitu asas yang berkaitan dengan kondisi kejiwaan manusia, sehingga proses pembelajaran dan penggunaan metode pengajaran sejalan dengan keadaan jiwa peserta didik. Adapun yang keenam, asas filsafat, yaitu asas yang berkaitan dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan agar sesuai dengan ajaran Islam.[12]

 

  1. Karya Ilmiah Hasan Langgulung

Tokoh pembaharu bergelar Profesor Doktor ini telah banyak menghasilkan puluhan karya ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia (Melayu), bahasa Arab maupun bahasa Inggris berupa karya terjemahan, buku, makalah dan berbagai artikel yang tersebar di berbagai majalah di dalam dan luar negeri. Tulisannya membahas berbagai macam persoalan yang berkisar tentang Pendidikan, Psikologi, Filsafat dan Islam. Di antara karya-karyanya tersebut, yaitu:

  • Thesis M.A. : Al-Murahiq al-Indonesiy; Ittijahatuh wa Darajatutawafuq Indahu (Remaja Indonesia; Sikap dan Penyesuaiannya)
  • Disertasi Ph.D. : A Cross-Cultural Study of The Child.s Conception of Situational Causality in India, Western Samoa, Mexico, and The United States, kemudian diterbitkan oleh Journal of Social Psychology: USA, 1973
  • The Development of Causal Thinking of Children in Mexico and The United States, USA: The Journal of Cross-Cultural Studies, 1973
  • The Curriculum Reform of General Education in Higher Education in Southeast Asia, Bangkok: ASAIHL, 1974
  • The Self; Concept of Indonesian Adolescene, Malaysia: Jurnal Pendidikan,1975
  • Social Aims and Effect of Higher Education, Kuala Lumpur: Economic & Business Student.s Association in Southeast Asia, 1973
  • Beberapa Aspek Pendidikan Ditinjau dari Segi Islam, Kuala Lumpur: Majalah Azzam, 1974
  • Belia, Pendidikan dan Moral, Kuala Lumpur: Dewan Masyarakat, 1977
  • Al-Ghazali dan Ibnu Thufail Vs Rousseau dan Pioget, Kuala Lumpur: Majalah Jihad, 1976
  • Pendidikan Islam akan Kemana?, Kuala Lumpur: Cahaya Islam, 1977
  • Peranan Ibu-Bapa dalam Pendidikan Keluarga, Kuala Lumpur: Al-Ihsan, 1977
  • Falsafah Pendidikan Islam, terjemahan dari karya Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  • Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma.arif, 1980
  • Pendidikan dan Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Al Husna, 1985, Cet III
  • Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru
  • Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologis, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru
  • Pendidikan Islam Dalam Abad Ke 21, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, cet. 3 Oktober 2003
  • Peralihan Paradigma Dalam Pendidikan Islam dan Sain Sosial, Jakarta: Gaya Media Pratama, cet. 1 April 2002

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Langgulung, Hasan. 2004. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka al Husna Baru.

Langgulung, Hasan. 2008. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: PT Pustaka Al Husna Baru.

Nata, Abuddin. 2012.Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Depok: PT Raja Grafido Persada.

Ramayulis, Nizar, Syamsul. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan di Dunia Islam dan Indonesia. Ciputat: PT. Ciputat Press Group.

[1] Prof. Dr. H. Ramayulis dkk.  Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan di Dunia Islam dan Indonesia. (Ciputat: PT. Ciputat Press Group, 2005) hlm 157

[2] Prof. Dr. H. Ramayulis dkk.  Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam; Mengenal Tokoh Pendidikan di Dunia Islam dan Indonesia. (Ciputat: PT. Ciputat Press Group, 2005) hlm 158

[3] Prof. Dr. Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Filsafat dan Pendidikan. (Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004) hlm 3

[4] Prof. Dr. Hasan Langgulung. Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Filsafat dan Pendidikan. (Jakarta: Pustaka al Husna Baru, 2004) hlm 4

[5] Loc.cit., hlm 158

[6] Ibid., Nizar. hlm 160

[7] Ibid., hlm 162

[8] Prof. Dr. Hasan Langgulung. Asas-asas Pendidikan Islam. (Jakarta: PT Pustaka Al Husna Baru, 2008) hlm 114

[9] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. (Depok: PT RajaGrafido Persada, 2012) hlm 343

[10] Op.cit., Nata hlm 346

[11] Ibid., hlm 347

[12] Ibid., hlm 347

Ketrampilan Dasar Mengajar

Keberhasilan kegiatan belajar mengajar salah satunya ditentukan oleh seberapa baik ketrampilan pendidik. Terdapat setidaknya delapan (8) ketrampilan dasar mengajar yang wajib dimiliki pendidik sebagai bekal utama guna mengantarkan peserta didiknya mencapai kompetensi keilmuan yang diharapkan. Di sisi lain, peserta didik tentu mengharapkan dapat memperoleh pengetahuan yang ideal dari pendidik yang terampil dan berkompeten sehingga terwujud keselarasan hak dan kewajiban antara keduanya.

Ketrampilan kesatu ialah membuka dan menutup pelajaran. Diantara cara membuka pelajaran ialah (1) menarik perhatian peserta didik melalui perantara media-media maupun dengan melakukan variasi-variasi, (2) menumbuhkan motivasi mereka melalui pembukaan secara antusias dan sesuai minat mereka, (3) memberikan acuan semisal dengan menyampaikan tujuan pelajaran, dan (4) memberikan kaitan dengan pelajaran sebelumnya semisal dari segi perbandingannya. Adapun ketrampilan menutup pelajaran, dapat dilakukan dengan meninjau kembali materi pelajaran yang telah diajarkan dalam bentuk rangkuman dan mengevaluasi materi melalui demonstrasi atau tes ringan.

Ketrampilan kedua ialah menjelaskan, dimana memiliki tujuan untuk membantu pengembangan nalar peserta didik terhadap materi pelajaran. Diantara cara menjelaskan yakni (1) memberikan kejelasan sajian materi dengan ucapan yang jelas, pertanyaan bernalar atau pemberian tujuan pelajaran, (2) menggunakan contoh dan ilustrasi, (3) memberikan penekanan pada pokok materi yang dianggap penting semisal dengan memberikan ringkasan materi, dan (4) menimbulkan balikan atau feedback dari peserta didik semisal melalui demonstrasi.

Ketrampilan ketiga yaitu bertanya, dimana memiliki tujuan untuk menimbulkan motivasi, membiasakan peserta didik untuk berpikir dan mendiagnosis kemampuan mereka. Cara yang dapat dilakukan untuk melatih ketrampilan ini diantaranya (1) memberikan acuan terlebih dahulu, (2) memberikan pertanyaan secara singkat namun jelas dan segera dipahami, (3) memusatkan perhatian atau fokus terhadap pertanyaan, (4) memindah gilir pertanyaan, (5) menyebarkan atau membagi pertanyaan, (6) memberi waktu berpikir, (7) memberi petunjuk menjawab, dan (8) melacak berbagai jawaban siswa yang kurang benar hingga mengarah sempurna.

Ketrampilan keempat yaitu memberikan penguatan. Diantara cara yang dapat diterapkan dalam ketrampilan tersebut ialah (1) memberi penguatan secara verbal, (2) penguatan melalui mimik wajah atau gerakan badan, (3) mendekati peserta didik, (4) memberikan sentuhan kepada peserta didik, (5) menciptakan kegiatan belajar yang disenangi mereka, dan (6) memberi penguatan melalui media seperti benda-benda atau simbol-simbol tertentu.

Ketrampilan kelima ialah mengadakan variasi. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam ketrampilan ini ialah relevan, memberi kelancaran, fleksibel dan secara spontan. Variasi sendiri dapat diterapkan pada 3 aspek yaitu variasi mengajar, variasi media atau bahan ajar dan variasi interaksi. Cara memberikan variasi media misalnya dengan suara, model, diagram, bagan dan sebagainya. Adapun variasi interaksi dapat dilakukan dengan melatih kemandirian peserta didik, mengadakan diskusi, dan memberikan pekerjaan individual.

Ketrampilan keenam yaitu membimbing diskusi kecil. Hal-hal yang perlu dijadikan acuan ketika membimbing diskusi kecil yakni anggota diskusi berjumlah antara 3 hingga 9 orang, memiliki tujuan diskusi yang pasti, menentukan ketua atau pimpinan diskusi pada tiap kelompok, memberikan interaksi informal guna menunju arah diskusi yang tepat, serta dilaksanakan secara tertib dan teratur sehingga diperoleh hasil diskusi yang baik. Pendidik dalam kegiatan diskusi kecil tersebut juga diharapkan mampu (1) menjadi pusat perhatian, (2) menjelaskan masalah yang dibahas, (3) menganalisa setiap pendapat peserta didik, (4) meningkatkan dan mengembangkan respon atau tanggapan masing-masing dari mereka, (5) menyebarkan dan membagi kesempatan berpartisipasi, dan (6) menutup diskusi dengan baik.

Ketrampilan ketujuh yaitu mengelola kelas. Komponen ketrampilan ini diantaranya meliputi (1) sikap tanggap dengan kontak pandang, mendekati peserta didik atau memberikan respon, (2) membagi perhatian baik secara visual maupun verbal, (3) memusatkan perhatian kelompok, (4) memberikan petunjuk pelajaran yang jelas, (5) memberikan penguatan pada materi terpenting, dan (6) memberikan teguran bagi yang kurang berkonsentrasi terhadap pelajaran. Pendidik juga diharapkan tidak melakukan tindakan yang kurang tepat seperti mencemooh mereka, mengalami kebuntuan dalam menjelaskan materi, dan memberikan penjelasan sepenggal-sepenggal.

Adapun ketrampilan yang kedelapan yaitu mengajar kelompok kecil dan perorangan. Ketrampilan ini umumnya diterapkan dalam konteks pembelajaran sistem klasikal. Komponen yang tergolong dalam ketrampilan ini meliputi (1) mengidentifikasi kemampuan peserta didik, (2) mengadakan pendekatan secara pribadi dalam upaya mengetahui kepribadian mereka dan memberikan solusi, (3) membimbing dan memudahkan peserta didik, serta (4) merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara terorganisir.

Tugas Merancang Jenis dan Bentuk Media Pembelajaran

Pelajaran          : Sejarah Kebudayaan Islam / Tarikh

Kelas               : VII

Semester          : I

Judul               : Sejarah kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.

SK                   : Memahami sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

KD                  : 1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

  1. Menjelaskan misi Nabi Muhammad s.a.w. untuk semua manusia dan bangsa

 

No Pesan/Isi Tipe Indikator Metode Media
1 Kaum jahiliyah di Makkah Fakta Siswa mampu mengemukakan gambaran kaum jahiliyah di Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Diskusi

– Peta Makkah

– Gambar ilustrasi kondisi Makkah

2 Mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. bagi para pengasuhnya Fakta Siswa mampu mengidentifikasi mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang dirasakan oleh para pengasuhnya – Tanya jawab

– Presentasi

– Kartu nama-nama pengasuh Nabi
3 Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad s.a.w. Fakta Siswa mampu menjelaskan biografi Siti Khodijah sebagai salah satu diantara para istri Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Tanya jawab

– Permainan

– Kartu nama-nama istri dan putra-putri Nabi
4 Penentangan Abu Lahab Terhadap Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep, Nilai – Siswa mampu mengkategorikan jenis dakwah Nabi Muhammad s.a.w. terhadap Abu Lahab

– Siswa mampu menyebutkan akhlak Nabi Muhammad s.a.w. ketika mendakwahi Abu Lahab

– Bercerita

– Tanya jawab

– Demonstrasi

– Demonstrasi cara dakwah Nabi
5 Nash al-Quran dan hadits tentang misi Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep,

Nilai

Siswa mampu mengidentifikasi misi Nabi Muhammad s.a.w. dalam ayat al-Quran dan hadits – Tanya jawab

– Diskusi

– Presentasi

– Gambar ilustrasi dakwah para Nabi

DA’I IDOLA: KH. ABDULLAH GYMNASTIAR (Aa Gym)

Mengapa KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Setiap tahun selalu muncul dai-dai baru yang menarik perhatian khalayak negeri yang  mayoritas islam ini. Termasuk yang kami angkat dan kami idolakan disini yakni Kyai H. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym. Sejarah masa kecil dan perjuangan beliau yang berliku dan penuh tempaan membuat siapapun yang mengetahuinya akan terpesona dan mengangkat topi terhadap kekuatan dan semangat beliau untuk senantiasa bangkit dan mendapatkan hal-hal terbaik dan diridhoi oleh Allah s.w.t.

Masa keemasan dakwah beliau cukup manis dan harum di mata para pengagumnya yang melihat bahwa tidak ada dai lain yang mampu memberikan kesan positif hingga masa sekarang. Tak dapat dipungkiri, keberadaan Aa Gym di dunia dakwah nasional juga memberi dampak bagi generasi islam pendakwah yang juga ingin berperan disana. Sikap beliau yang sesuai syari’at, jujur, sederhana, tidak mengada-ada dan mudah diterima di segala kalangan masyarakat seakan menunjukkan bahwa begitulah semestinya akhlak yang mutlak dimiliki dan diaplikasikan oleh setiap individu yang hendak mengajak umat ini menuju ridho Allah s.w.t. dan Rasul-Nya.

 

Kelebihan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Dari sekian banyak kelebihan yang sebagian telah kami ungkap pada muqaddimah awal tadi, masih banyak kelebihan lain dari KH. Abdullah Gymnastiar yang tentunya lebih penting keberadaannya untuk diketahui. Diantaranya, beliau mampu membawakan topik-topik dakwah secara persuasif sejak awal hingga akhir penyampaian beliau. Hal ini menjadi urgent karena perhatian yang konsisten dari para pendengar akan memberikan efek dan pengaruh yang cukup besar pada diri mereka setelah memperhatikan materi dakwah tersebut.

Selanjutnya, beliau menyertakan dan menghubungkan dalam setiap materi dakwahnya dengan contoh-contoh kejadian atau peristiwa yang nyata atau kongkrit, yang berlangsung di sekitar, dan sudah terbukti kesahihannya, dimana kesemuanya menjadikan para pendengar mudah menerimanya dengan segera dan tidak cepat-cepat membuangnya dengan telinga kirinya. Kemudian, beliau memiliki pilihan kata-kata dan bahasa-bahasa yang sederhana (mudah dicerna) dan cepat menyentuh jiwa dan kalbu para pendengarnya sehingga terkesan beliau tidak bermaksud menggurui namun memberikan hikmah yang indah dan efektif menggugah kesadaran siapapun yang mendengarnya.

Dan yang terakhir namun tergolong kelebihan yang jarang dimiliki dai lain ialah Aa Gym seringkali melantunkan nasyid ataupun sholawat (bacaan) yang mampu menggiring pendengarnya terhanyut dalam suara merdu beliau sekaligus dapat meresapi makna lantunan tersebut. Apalagi nasyid atau sholawat tersebut sangat relevan dengan pesan/isi dakwah yang beliau sampaikan yang kadangkala memang memerlukan cara/pendekatan yang demikian untuk membangkitkan lagi perhatian dan semangat mereka kepada pusat pembicaraannya.

 

Kekurangan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Sebagai salah satu penikmat dakwah beliau, kami memandang bahwa kekurangan atau segala yang berlawanan dari kelebihan beliau diatas tidak banyak yang kami catat. Namun, setidaknya ada beberapa hal yang kami perhatikan untuk diperhatikan bersama agar dapat berdakwah secara maksimal. Pertama, Aa Gym yang dahulu memiliki jadwal padat disebabkan model dakwahnya yang familier di berbagai kalangan, terutama ibu-ibu dan wanita, pada ± 5 tahun yang lalu beliau melaksanakan ibadah poligami yang tentunya belum banyak diterima dan mayoritas ditolak oleh ibu-ibu di negeri ini.

Tindakan ini menjadikan sebagian besar penikmat dakwahnya utamanya ibu-ibu tidak lagi mau mendengarkan dakwah beliau lagi bahkan mengecamnya. Sekalipun ibadah ini benar adanya, menurut kami, seorang dai ideal semestinya dapat mengerti kehendak para pendengarnya dan memahami kondisi mereka secara kompleks. Barangkali, jika beliau menginformasikan terlebih dahulu bahwa beliau hendak berpoligami, bukannya mendadak dan tiba-tiba seperti demikian, mungkin para pendengarnya akan mencoba memahami dan mengerti bahwa Islam menghalalkan poligami secara qoth’i dan tidak dapat ditolak keberadaanya.

Hal yang selanjutnya yang kami masukkan kedalam salah satu kekurangan beliau yakni Aa Gym kurang begitu fasih dalam melafalkan ayat-ayat al-Quran ataupun hadits-hadits yang berbahasa arab. Sekalipun kami sendiri bisa sedikit memaklumi karena boleh jadi disebabkan logat bahasa lokal beliau, namun setidaknya harapan kami, seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya beliau berdakwah dan memberikan dalil-dalil naqli tersebut, semestinya semakin membuat kemampuan beliau dalam hal itu dapat bertambah dan tidak begitu-begitu saja. Para pengagum beliau adakalanya berasal dari golongan yang cukup fasih dalam pelafalan ayat atau hadits, baik kyai atau sesama dai lainnya, bilamana beliau dapat mengurangi kekurangan yang satu ini, setidaknya dapat menambah keyakinan dan mereka terhadap apa-apa yang beliau sampaikan secara mantap.

REVIEW BUKU (2)

Judul               : EVALUASI HASIL BELAJAR

Penulis             : Dr. Purwanto, M.Pd

Penerbit           : Pustaka Belajar (Yogyakarta)

Tahun              : 2011

 

Sebagai sebuah program, pendidikan memerlukan evaluasi apabila ingin diketahui efektivitasnya.  Evaluasi merupakan pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran (pengumpulan data) dan kriterianya. Oleh karenanya kegiatan evaluasi harus didahului dengan kegiatan pengukuran. Dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria, keputusan evaluasi dapat dibuat. Pengukuran dilakukan agar pengambilan keputusan evaluasi dapat diambil secara akurat. Dalam pelaksanaannya, evaluasi dapat berfungsi penempatan, seleksi, diagnostik, dan pengukur keberhasilan.

Berbagai pihak seperti guru, siswa, sekolah, masyarakat dan pemerintah memperoleh manfaat dari kegiatan evaluasi pendidikan. Pengukuran dan evaluasi pendidikan mempunyai sejumlah ciri yaitu bersifat tidak langsung, menggunakan ukuran kuantitatif dan mengandung kesalahan.

Pendidikan merupakan sebuah program yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sistem. Program adalah kegiatan yang akan dilakukan dengan perencanaan dan tujuan yang akan dicapai. Sebagai sebuah program pendidikan memerlukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan program yang direncanakan dapat dicapai. Evaluasi program berhubungan dengan komponen dan aspek yang akan dievaluasi. Terdapat beberapa model pengembangan evaluasi program pendidikan. Perbedaan model terletak pada perbedaannya pada komponen dan aspek yang dievaluasi. Model-model itu adalah model pengukuran, kesesuaian, evaluasi sistem, dan iluminatif. Evaluasi model pengukuran mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif. Model kesesuaian mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Model evaluasi sistem mengevaluasi semua komponen pendidikan secara terpisah-pisah dan kuantitatif. Model iluminatif mengevaluasi seluruh komponen sebagai sebuah keutuhan secara kuantitatif.

Tujuan pendidikan merupakan perubahan perilaku yang direncanakan dapat dicapai melalui proses belajar mengajar. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik.

Domain-domain dalam perilaku kejiwaan bukanlah kemampuan tunggal. Untuk kepentingan pengukuran hasil belajar domain-domain disusun secara hirarkhis dalam tingkat-tingkat mulai dari yang paling rendah dan sederhana hingga yang paling tinggi dan kompleks. Dalam domain kognitif diklasifikasikan menjadi kemampuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Dalam domain afektif hasil belajar meliputi level: penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan karakterisasi. Sedang domain psikomotorik terdiri dari level: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas.

Untuk memperoleh data yang obyektif, maka pengumpulannya dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran melakukan pengumpulan data menggunakan alat ukur atau instrument. Dalam pendidikan, pengumpulan data dengan cara melakukan pengukuran juga dapat dilakukan. Pengukuran dilakukan atas atribut yang disebut variabel. Berdasarkan perlu tidaknya instrument factual dan konsep. Sedang menurut penampilan responden dalam memberikan respons atas instrument, variabel dapat berupa variabel tipikal dan maksimal. Instrument pendidikan, seperti juga alat ukur yang lain, harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.

Tes merupakan salah satu jenis instrument, disamping non-tes. Tes sebagai instrument berhubungan dengan fungsinya untuk mengukur penampilan maksimal. Dalam kegiatan pengukurannya, tes dapat dibagi menjadi dua yaitu tes yang mengukur penguasaan dan tes yang mengukur kemampuan. Tes penguasaan mengukur apa yang telah dikuasai oleh siswa dari materi yang yang telah dipelajari. Dengan kata lain, tes penguasaan mengukur apa yang diperoleh, sedangkan tes kemampuan mengukur apa yang dimiliki.

Tes hasil belajar (THB) merupakan salah satu jenis tes yang mengukur penguasaan. Menurut macamnya, THB terdiri dari tes formatif, sumatif, diagnostik, dan penempatan. Menurut bentuknya, THB dapat berbentuk esai dan obyektif. Komponen THB terdiri dari perangkat, petunjuk pengerjaan, butir soal, pilihan, kunci jawaban dan pengecoh. Dalam pelaksanaannya, THB dapat dilakukan dengan pengamatan, lisan, tertulis atau analisis dokumen karya.

Menilai hasil belajar siswa adalah pengambilan keputusan penting yang menentukan nasib akademik siswa, sehingga harus didasarkan pada data yang tepat dan akurat. Data hasil belajar yang menjadi dasar penilaian haruslah obyektif, bebas dari pertimbangan subyektif dan dapat diuji kembali. Data demikian diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes hasil belajar. Data hasil belajar yang baik diperoleh dari pengukuran menggunakan tes hasil belajar yang baik. THB yang baik digunakan setelah melalui proses pengembangan. Pengembangan THB dilakukan melalui beberapa kegiatan: identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, uji kualitas dan kompilasi butir THB.

Sebagai sebuah alat ukur, THB harus memenuhi syarat ukur yang baik yaitu validitas dan reliabilitas. Sebelum pengujian syarat alat ukur yang baik dilakukan, maka terlebih dahulu butir-butir THB harus diuji coba menggunakan analisis butir. Analisis butir dapat dilakukan menggunakan teori klasik atau modern. Oleh karena pertimbangan kepraktisan, tes klasik lebih banyak digunakan dengan beberapa kekurangannya.

Dalam analisis butir menggunakan teori tes klasik, karakteristik butir yang diuji adalah tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Dalam pengujian itu keputusan butir yang baik didasarkan oleh beberapa kriteria yaitu tingkat kesukaran harus sedang, daya beda harus positif dan tinggi, dan pengecoh harus dipilih paling tidak satu orang peserta tes.

Validitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Validitas berhubungan dengan kemampuan THB untuk mengukur keadaan yang akan diukurnya. Pengujian validitas dapat dikelompokkan menjadi tiga: validitas isi, kriteria dan konstruk. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan cara menelaah butir, meminta pertimbangan ahli dan menghitung korelasi butir dengan total. Pengujian validitas kriteria dapat berupa validitas konkuren dan prediktif. Pengujian validitas konstruk dapat dilakukan dengan menelaah butir, meminta pertimbangan ahli, konvergensi dan diskriminabilitas, multirait-multimethod, dan analisis faktor.

Analisi Faktor (AF) merupakan analisis uji validitas konstruk. Analisis dilakukan dengan menguji butir-butir atau variabel-variabel yang sangat banyak diringkas menjadi faktor-faktor yang lebih sedikit dan sederhana. Peringkasan dilakukan dengan menyatukan butir-butir atau variabel-variabel yang mempunyai varians faktor bersama yang besar ke dalam satu faktor Karena dalam keadaan demikian butir-butir atau variabel-variabel tersebut sebenarnya mengukur dimensi yang sama. Dalam penggunaannya, AF dapat dilakukan secara eksploratif maupun konfirmatif.

AF ditempuh dengan prosedur yang melibatkan beberapa langkah yaitu: menguji kelayakan analisis, menyajikan matriks korelasi, melakukan ekstraksi, melakukan rotasi dan memberi nama faktor. Hasil perhitungan dari langkah-langkah uji akan ditafsirkan. Data dapat dianalisis bila sampel cukup dan berdistribusi normal. Hal itu ditunjukkan oleh koefisien KMO minimal 0,80 dan taraf signifikansi yang ditetapkan dibawah rekomendasi hasil perhitungan. Butir yang mempunyai dimensi sama memiliki eigenvalues minimal 1,00. Sebuah butir memberi dukungan pada sebuah faktor bila mempunyai muatan faktor minimal 0,30. Faktor hasil proses rotasi selanjutnya diberi nama atau label sesuai dengan sifat butir-butir muatannya.

Reliabilitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Reliabilitas adalah koefisien yang menunjukkan kemampuan THB untuk memberikan hasil pengukuran yang relatif tetap dan konsisten. Reliabilitas dapat dipandang sebagai stabilitas internal dan konsistensi internal. Metode pengujian yang memandang reliabilitas sebagai stabilitas eksternal adala metode tes ulang dan paralel. Sedang metode yang memandang reliabilitas sebagai koefisien konsistensi internal adalah metode belah dua, Flanagan, Rulon, Kuder Richardson, Hoyt, dan Alpha Cronbach.

Keputusan reliabilitas dilakukan dengan mengonfirmasikan koefisien reliabilitas hasil perhitungan dengan kriteria batas tertentu. Beberapa memandang kriteria itu merupakan batas relatif, beberapa memberikan petunjuk tentang besar koefisien minimal, beberapa yang lain memandang koefisien reliabilitas sebagai koefisien korelasi yang konfirmasi signifikansinya menggunakan tabel.

Disamping koefisien reliabilitas, dalam THB yang digunakan untuk mengukur skor-skor yang akan dibandingkan secara individual, maka untuk menilai kecermatan THB dalam mengukur, perlu dipertimbangkan pula kesalahan standar pengukuran. Kesalahan standar pengukuran merupakan ukuran yang dapat digunakan untuk menilai akurasi skor yang diperoleh dari kegiatan pengukuran.

Data hasil belajar adalah keterangan kuantitatif mengenai hasil belajar siswa. Data itu mencerminkan perubahan perilaku siswa setelah belajar. Data hasil belajar dapat dikelompokkan dalam beberapa macam. Menurut cara pengumpulannya, data hasil belajar dibagi menjadi data primer dan sekunder. Sedang menurut sumber yang menjadi obyek pengumpulan data, data hasil belajar dapat diambil dari sampel atau populasi.

Data hasil belajar dihasilkan dari pengukuran menggunakan THB yang menghasilkan skor. Perhitungan skor dilakukan berdasarkan aturan skoring. Pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan mengubah jawaban peserta tes kedalam ukuran kuantitatif berdasarkan aturan skoring yang ditetapkan. Dalam pengukuran menggunakan THB, aturan skoring yang digunakan sangat dipengaruhi oleh bentuk THB dan ketentuan mengenai denda.

Skor data hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam. Menurut unsurnya, skor dapat berupa skor murni, skor amatan dan skor kesalahan. Sedang menurut jumlah unsurnya, skor dapat berupa skor tunggal atau gabungan.

Statistika membantu mengolah skor data hasil belajar menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam melakukan analisis data hasil belajar, statistika melibatkan proses pengumpulan, penyajian dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur menggunakan tes hasil belajar. Penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel dan grafik, khususnya tabel distributif dan kurva. Pengolahan data dilakukan menggunakan statistika deskriptif khususnya mean dan standar deviasi.

Hasil pengukuran berupa skor belum mempunyai arti untuk dapat digunakan dalam membuat keputusan. Skor hanya bermakna dan dapat digunakan untuk membuat keputusan setelah diubah menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam mengubah skor menjadi nilai, proses penilaian menggunakan skala dan acuan tertentu. Oleh karenanya pemberian makna kepada nilai dalam pengambilan keputusan harus mempertimbangkan skala dan acuan yang digunakan untuk mengubah skor menjadi nilai.

REVIEW BUKU

Judul               : PENGANTAR EVALUASI PENDIDIKAN

Penulis             : Prof. Drs. Anas Sudijono

Penerbit           : PT. RajaGrafindo Persada / Rajawali Pers (Jakarta)

Tahun              : 2011

 

Makna evaluasi dibatasi pada pengertiannya sebagai proses atau kegiatan yang bertujuan memajukan pendidikan dan guna memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan itu. Evaluasi atau penilaian sangat berhubungan erat dengan pengukuran, dimana hasil-hasil pengukuran menjadi sebagian besar sumber dalam menggambarkan evaluasi yang dilakukan pada suatu lembaga pendidikan.

Fungsi penilaian yang penting dalam dunia pendidikan, diantaranya pada aspek psikologis, didaktik dan administratif. Sedangkan pendidikan sendiri mengklasifikasikan penilaian berdasarkan pada tiga hal, yakni fungsinya, penggunaan informasi, dan sesuai asas pertanyaan “dimana atau pada bagian manakah penilaian tersebut dilakukan”. Sedangkan pelaku atau subyek evaluasi pendidikan, bila menyasar pada prestasi belajar, maka ia adalah guru atau dosen yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Evaluasi hasil belajar dikatakan akan bisa terlaksana dengan maksimal apabila dalam pelaksanaannya selalu berpedoman dengan tiga prinsip dasar pokok, meliputi prinsip keseluruhan, prinsip kesinambungan dan prinsip obyektivitas. Dan sebaliknya, jika tidak menyertakan ketiga unsur penting tersebut, maka akan menodai kemurnian pekerjaan evaluasi itu sendiri.

Kegiatan evaluasi setidaknya harus memiliki ciri-ciri yang akan membedakannya dengan kegiatan lainnya. Pertama, evaluasi yang dilakukan dalam usaha mengukur tingkat keberhasilan peserta didik itu diukur secara tidak langsung. Kedua, pengukurannya itu mayoritas memakai standar ukuran yang bersifat kuantitatif maupun simbol-simbol angka. Dan ketiga, evaluasi secara umum menggunakan satuan-satuan yang tetap dan konsisten. Dalam praktiknya, evaluasi diawali dengan menyusun evaluasi hasil belajar, menghimpun data, melakukan verifikasi data, mengolah-menganalisis data, memberikan interpretasi maupun menarik kesimpulan, serta diakhiri dengan proses menindak lanjuti hasil evaluasi tersebut.

Tes merupakan cara atau prosedur dalam upaya melakukan pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, sehingga akan dihasilkan nilai yang dapat dilambangkan. Berdasarkan fungsinya, ada beberapa teknik tes untuk mengukur perkembangan dan kemajuan belajar dari peserta didik. Diantara yang tergolong jenis itu adalah tes seleksi, tes awal, tes akhirm tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.

Adapun teknik non-tes dapat dirupakan dalam bentuk pengamatan secara sistematis, melakukan wawancara, menyebarkan angket dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen. Berkebalikan dari kegunaan teknis tes yang berkutat di ranah kognitif peserta didik, maka teknik non-tes ini meliputi ranah afektif dan psikomotorik mereka.

Sebuah tes hasil belajar dapat dikategorikan baik bila memiliki validitas, reliabilitas, obyektifitas dan nilai praktis yang tepat. Karakteristik tersebut lebih sempurna lagi bila disertai dengan lima prinsip dalam menyusun dan membuat sebuah tes hasil belajar. Diantara kelima prinsip itu terdapat prinsip (1) dapat mengukur hasil belajar (learning outcomes) sesuai tujuan instruksional, dan (2) tiap butir soal tes itu merupakan sampel representatif yang mewakili keseluruhan performance yang didapat peserta didik.

Bentuk tes hasil belajar diklasifikasikan dalam dua bentuk, yakni tes uraian dan tes obyektif. Adapun tes uraian atau juga dikenal dengan essay test yang umumnya berbentuk pertanyaan, dimana mengharuskan peserta didik menjawab dengan paparan kalimat yang terkadang agak panjang dan penjelasan yang cukup detail. Dalam menyusunnya, dapat dimulai menyesuaikan dengan ide-ide pokok materi pelajaran, lalu membuat susunan kalimat yang berlainan dengan kalimat pada buku, membuat kunci jawabannya yang terumuskan secara tegas, merancang variasi bentuk kalimat perintah yang cukup beragam, meringkas susunan kalimat soal yang dirasa terlalu panjang dan disertakan pedoman cara mengerjakan soalnya.

Dalam praktiknya, pelaksanaan tes hasil belajar dapat dilakukan secara tertulis, lisan ataupun dengan perbuatan. Ketiga jenis ini sebaiknya dijalankan sesuai dengan pedoman yang benar agar terlaksana secara optimal dan meminimalisir kecurangan peserta didik. Diantaranya ketika tes tertulis, data-data berita acara pelaksanaan tes harus tercatat dan terdokumentasi secara baik. Dan ketika tes perbuatan, setiap tester telah menyiapkan instrument berupa lembar penilaian yang tersusun sistematis dan terencana.

Validitas merupakan salah satu ciri yang menandakan tingkat kebaikan suatu tes hasil belajar. Untuk menentukannya, dapat dilihat dari 2 segi, yakni segi tes itu sendiri sebagai suatu totalitas dan segi itemnya. Dalam mengamati segi totalitasnya, dapat diketahui dengan cara menganalisa dengan jalan berpikir secara rasional dan menganalisa berdasarkan kepada kenyataan empiris melalui empirical analysis. Suatu tes dapat dianalisa kerasionalannya lewat dua hal, meliputi isinya (content) dan susunannya (construct). Sedangkan tingkat empirik tes belajar dapat ditelusuri melalui 2 unsur, yakni daya ketepatan meramalnya (predictive validity) dan bandingannya (concurrent validity).

Item-item dalam tes juga dibutuhkan suatu proses untuk mengetahui tingkat validitasnya. Proses tersebut ialah teknik korelasi sebagai alat analisanya. Sebuah item soal dapat dinyatakan valid jika terbukti memiliki korelasi positif yang cukup signigfikan dengan skor totalnya.

Tes hasil belajar juga sebaiknya memiliki tingkat reliabilitas yang cukup tinggi. Adpapun untuk tes yang berbentuk uraian, dapat diketahui melalui acuan khusus, seperti dengan rumus alpha. Sedangkan untuk tes yang berbentuk obyektif, penentuan reliabilitasnya dijalani melalui tiga macam pendekatan, meliputi single test-single trial, test-retest/single tes-double trial, dan alternate form/double test-double trial.

Beragamnya jenis pelaksanaan tes hasil belajar tentunya akan menuntut adanya keragaman dalam pemeriksaan hasil-hasilnya, sehingga dibutuhkan cara yang tepat dalam mengoreksi dan menilai hasil tersebut secara baik. Penggunaan kunci jawaban sebagai alat koreksi pada tes uraian obyektif setidaknya memiliki 4 model yang bisa dipergunakan, yaitu kunci berdamping (strip keys), kunci sistem karbon (carbon system keys), kunci sistem tusukan (pinprick system keys), dan kunci berjendela (window keys). Adapun tes tulis subyektif, sebaiknya penguji memiliki pedoman yang kuat dan disiplin dalam penerapannya agar nilai yang dihasilkan dapat merepresentasikan penguasaan dan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Pemberian skor merupakan langkah awal dalam pengolahan hasil tes yang selanjutnya akan diubah menjadi nilai-nilai (grade) dengan penggunaan symbol tertentu. Untuk tes uraian, skoring umumnya didasarkan pada bobot setiap butir soal dan tingkat kesukarannya. Perlu diketahui, bahwa di tanah air kita, nilai standar yang dianut pada tingkat dasar dan menengah adalah berskala sebelas (stanel), sedangkan pada tingkat pendidikan tinggi mengacu pada skala lima (stanfive) atau nilai huruf. Penilaian berpatokan atau yang beracuan kriterium dengan standar mutlak sebaiknya diterapkan pada tes yang bersifat standar atau mendekatinya, sehingga akan mampu menghasilkan bukti yang dapat diandalkan ketepatannya, dari segi derajat kesukaran, daya beda, fungsi distraktor, validitas hingga reliabilitasnya.

Identifikasi terhadap setiap butir item tes hasil belajar juga dilakukan pada langkah berikutnya, mengingat pentingnya sekolah mengetahui informasi dalam upaya perbaikan, pembenahan dan penyempurnaan tes-tes di masa mendatang. Karenanya, diadakan suatu pengukuran dengan kualitas yang tinggi yang sering disebut dengan analisis item (item analysis). Penganalisaan ini diterapkan dalam tiga segi, meliputi derajat kesukaran, daya beda dan fungsi distraktor tiap itemnya. Namun yang tidak boleh dilupakan, setelah melakukan analisa item tersebut, seharusnya dapat ditindak lanjuti demi kebaikan dan kemajuan, bila tidak maka dikhawatirkan akan sia-sia belaka.

Tahapan terakhir yang sangat penting pula dilakukan ialah penentuan nilai akhir. Nilai akhir yang baik akan dapat berfungsi pada segi administratif, informatif, bimbingan dan instruksional pada kedua belah pihak, pendidik dan peserta didik. Faktor yang perlu diperhatikan pendidik dalam memberikan nilai akhir diantaranya faktor pencapaian (achievement), usaha (effort), aspek pribadi-sosial (personal and social characteristics) dan kebiasaan kerja (work habbit) dari setiap anak didiknya, sehingga akan diperoleh nilai yang komprehensif.

Adapun penentuan ranking sangat berguna sebagai laporan dan informasi penting untuk pihak-pihak atasan, orang tua peserta didik maupun bagi peserta didik itu sendiri. Dalam praktiknya, penentuan rangking memiliki beberapa jenis, diantaranya ranking sederhana (simple rank) dan ranking persenan (percentile rank). Sebagai hasil nyatanya, salah satu bentuk lain yang umumnya dapat dilakukan ialah dengan membuat profil prestasi belajar. Dengan ini, pendidik akan memperoleh gambaran secara visual mengenai perkembangan dan hasil apa yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

Istinbath, Istidlal Dan Jenis-jenisnya

A. Teori Istinbath
1. Pengertian Istinbath
Istinbath” berasal dari kata “nabth” yang berarti : “air yang mula-mula memancar keluar dari sumur yang digali”. Dengan demikian, menurut bahasa, arti istinbath ialah “mengeluarkan sesuatu dari persembunyiannya”.  Setelah dipakai sebagai istilah dalam studi hukum islam, arti istinbath menjadi “upaya mengeluarkan hukum dari sumbernya”. Makna istilah ini hampir sama dengan ijtihad. Fokus istinbath adalah teks suci ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi. Karena itu, pemahaman, penggalian, dan perumusan hukum dari kedua sumber tersebut disebut istinbath.
Upaya istinbath  tidak akan membuahkan hasil yang memadai, tanpa pendekatan yang tepat. Tentu saja pendekatan ini terkait dengan sumber hukum. Menurut ‘Ali Hasaballah, sebagaimana dikutip oleh Nasrun Rusli, melihat ada dua cara pendekatan yang dikembangkan oleh para pakar dalam melakukan istinbath, yakni melalui kaidah-kaidah kebahasan dan melalui pengenalan maksud syariat.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang akan melakukan istinbath atau ijtihad adalah sebagai berikut :
a) Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah hukum.
b) Memiliki pengetahuan yang luas tentang hadis-hadis Nabi yang berhubungan dengan masalah hukum.
c) Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh Ijma’, agar dalam menentukan hukum sesuatu, tidak bertentangan dengan Ijma’.
d) Meiliki pengetahuan yang luas tentang qiyas, dan dapat mempergunakannya untuk istinbath hukum.
e) Mengetahui ilmu logika, agar dapt mengahasilkan kesimpulan yang benar tentang hukum, dan sanggup mempertanggungjawabkannya.
f) Menguasai bahasa Arab secara mendalam karena al-Qur’an dan Sunnah tersusun dalam bahasa Arab, dll.

2. Konstruksi Hukum dengan Analisa Tata Bahasa
Maksud analisa tata bahasa adalah memahami bahasa teks yang tampak. Teks ini bisa diucapkan, ditulis, dan dipahami pengertiannya.  Sasaran kajian teks ini adalah ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang termaktub dalam kitab-kitab hadis. Teks tersebut ditulis dalm bahasa Arab, sehingga penalarannya juga menggunakan kajian bahasa Arab.
Dilihat dari segi cakupannya, ada pernyataan hukum yang bersifat umum dan ada juga yang bersifat khusus. Sasaran hukum dalam pernyataan hukum yang umum adalah tanpa pengecualian. Ungkapan “barangsiapa” berarti menunjuk kepada siapapun, jenis kelamin apapun, generasi manapun tanpa pembatasan. Sedangkan pernyataan khusus mengandung pengertian tunggal atau beberapa pengertian yang terbatas. Para pakar studi hukum islam sepakat bahwa pernyataan hukum yang khusus bersifat final dan pasti sehingga menutup pengertian yang lain. Namun demikian, pernyataan hukum yang khusus ini ada yang bersifat mutlak tanpa pembatasan dan ada pula yang dibatasi.
Suatu pernyataan dianggap mutlaq jika tidak ada pembatasan sama sekali yang mempersempit keluasan pengertiannya. Sebaliknya pernyataan dianggap terbatas karena ada pembatasan yang mempersempit pengertiannya.
Dalam al-Qur’an, banyak terjadi pengulangan kata, baik yang mutlak maupun maupun terbatas. Para studi hukum Isam membuat rumusan mengenai hal ini. Jika kata yang diulangi bermakna mutlak semua, maka maknanya juga mutlak dan sebaliknya.
Akan tetapi jika pengulangan itu membuat kata yang mutlak dan terbatas dalam tempat yang berlainan, maka terdapat dua kemungkinan makna, Pertama, kata yang mutlak diberi pembatasan sesuai kata yang terbatas. Kedua, kata yang mutlak tidak dibatasi sebagaimana kata yang terbatas, jika masing-masing berbeda dalam hukum dan sebabnya.
Selain mutlak dan terbatas, pernyataan hukum yang khusus juga disertai perintah dan larangan. Perintah adalah tuntutan untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah. Larangan adalah tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah tingkatannya.  Perintah menuntut pelaksanaan, bukan perdebatan. Begitu pula, larangan mengharuskan untuk ditinggalkan. Ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah mendapatkan pahala dan sebaliknya penentangannya akan mendapatkan dosa.

3. Konstruksi Hukum Dengan Analisa Makna
Pernyataan hukum tentu mengandung makna yang dapat dikonstruksikan. Ada empat teknik analisa untuk menggali hukum melalui makna suatu pernyataan hukum yaitu analisa makna terjemah (‘ibarah nash), analisa pengembangan makna (dilalah al-nash), analisa kata kunci dari suatu pernyataan (isyarah al-nash), dan analisa relevansi makna (iqtidla’ al-nash). Untuk menerapkan keempat teknik analisa tersebut, dapat dikemukakan contoh penggalan ayat 23 surat al-Nisa’:
Artinya: “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian dan putri-putri kalian….”.
Ternyata, terjemahan ini tidak bisa dipahami, sehingga muncul pertanyaan, “Dalam hal apakah, orang laki-laki diharamkan atas ibunya dan putrinya?’. Agar bisa dipahami perlu tambahan kata yang relevan pada penggalan ayat diatas. Relevansinya didasarkan pada ayat sebelum dan sesudahnya, sehingga kata yang relevan sebagai tambahan adalah “menikahi”. Inilah kontruksi hukum dengan analisa relevansi makna. (istidla’ al-nash). Penting dicatat bahwa tambahan ini bukan berarti menambahi ayat Al-Qur’an, apalagi merubahnya, melainkan memudahkan pemahaman saja. Karena penggalan ayat tersebut bisa dipahami jika terjemahnya berbunyi : “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu dan putri-putri kalian….”.
Terjemah penggalan ayat tersebut memberikan dua pengertian yaitu orang laki-laki dilarang menikahi ibunya dan putri kandungnya. Pengertian sederhana ini merupakan hasil analisa makna terjemah (‘ibarah al-nash). Jika makna ini diperluas lagi, maka muncul banyak kesimpulan hukum. Perluasan makna ini merupakan analisa pengembangan makna (dilalah al-nash). Kata kunci dari penggalan ayat tersebut adalah “diharamkan atas kalian”. Ketika keharaman itu disertai dengan kata kunci “atas kalian” maka hal itu akan menunjukkan bahaya dan kerusakan bila hukum haram itu dilakukan. Pemahaman ini adalah hasil dari analisa kata kunci “(isyarah al-nash).

B. Teori Istidlal
1.  Pengertian Istidlal
Secara bahasa, kata istidlal berasal dari kata Istadalla yang berarti: minta petunjuk, memperoleh dalil, menarik kesimpulan. Imam al-Dimyathi memberikan arti istidlal secara umum, yaitu mencari dalil untuk mencapai tujuan yang diminta.  Dalam proses pencarian, al-Qur’an menjadi rujukan yang pertama, al-Sunnah menjadi alternatif kedua, Ijma’ menjadi yang ketiga dan Qiyas pilihan berikutnya. Apabila keempat dalil belum bisa membuat keputusan hukum, maka upaya berikutnya adalah mencari dalil yang diperselisihkan para ulama, seperti istihsan, Maslahah Mursalah, dll. Dengan demikian, teori istidlal merupakan pencarian dalil-dalil diluar keempat dalil tersebut.
Menurut bahasa, kata dalil mengandung beberapa makna yakni: penunjuk, buku petunjuk, tanda atau alamat, daftar isi buku, bukti dan saksi. Menurut kebiasaan para pakar studi hukum islam diartikan dengan “sesuatu yang mengandung petunjuk (dalalah) atau bimbingan (irsyad).” Definisi tentang dalil yang lebih mengarah pada landasan hukum yang dikemukakan oleh ‘Abd al-Wahhab Khallaf yaitu “sesuatu yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam  memperoleh hukum syara’ yang bersifat praktis.” Jadi dalil merupakan landasan bagi para pakar studi hukum islam dalam menetapkan suatu ketetapan hukum untuk diterapkan secara praktis oleh seseorang atau masyarakat. Ketetapan bisa bersifat qath’i (pasti) atau zhanni (tidak pasti).

2. Macam-macamn Dalil
Dilihat dari segi keberadaannya, dalil dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, dalil-dalil hukum keberadaannya  terdapat dalam teks suci yaitu al-Qur’an dan Sunnah yang disebut dengan dalil naqli. Kedua, dalil-dalil hukum yang keberadaannya tidak terdapat dalam teks suci, melainkan dirumuskan melalui analisis pemikiran yang disebut dengan dalil ‘Aqli. Berdasarkan pengertian ini, para ulama menempatkan sebelas dalil sebagai landasan penetapan suatu hukum, yaitu: Al-Qur’an, sunnah, ijma’, qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, sad al-dzari’ah, ‘urf (tradisi), syar’u man qablana (syariah sebelum masa nabi Muhammad SAW), dan madzhab al-shahabi (pendapat sahabat Nabi).

a) Al-Qur’an
Secara bahasa, al-Qur’an dari kata qara’a yang berarti “bacaan” atau “apa yang tertulis padanya” Al-Qur’an didefinisikan sebagai berikut:
“ Kalam Allah, mengandung mukjizat dan diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, dalam bahasa yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, terdapat dalam mushaf, dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri an-Nas”.
Kaum muslim sepakat menerima Al-Qur’an sebagai dalil atau sumber hukum yang paling asasi.

b) Sunnah
Menurut bahasa, sunnah berarti “jalan yang biasa dilaui” atau “cara yang senantiasa dilakukan”. Secara istilah, sunnah adalah segala yang diriwayatkan Nabi baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan sifatya yang berkaitan dengan hukum.

c) Ijma’
Menurut bahasa, Ijma’ berarti kesepakatan atau konsensus. Ijma’ terbagi menjadi dua bentuk yaitu Ijma’ sharih dan Ijma’ sukuti. Ijma’ sharih adalah kesepakatan para mujtahid, baik melalui pendapat maupun melalui perbuatan terhadap hukum masalah tertentu. Ijma’ sukuti adalah pendapat sebagian mujtahid tentang hukum masalah dan tersebar luas, sementara sebagian mujtahid lainnya hanya diam saja setelah meneliti pendapat mujtahid yang lainnya, tanpa ada yang menolak pendapat tersebut.

d) Qiyas
Arti Qiyas secara bahasa adalah ukuran, mengetahui ukuran sesuatu, membandingkan atau menyamakan sesuatu dengan yang lain. Qiyas memiliki empat rukun yaitu Ashl (wadah hukum yang diterapkan melalui nash atau ijma’), far’u (kasus yang akan ditentukan hukumnya), illat (motivasi hukum yang terdapat dan terlihat oleh mujtahid  ashl), dan hukm al-asl (hukum yang telah ditentukan oleh nash atau ijma’).

e) Istihsan
Dari segi bahasa, Istihasan  berarti “menganggap atau memandang baik pada sesuatu”. Dari segi istilah, istihsan ialah meninggalkan Qiyas dan mengamalkan yang lebih kuat darinya, karena terdapat dalil atau alasan yang menghendakinya. Sedangkan pendapat para ulama berbeda-beda dalam mengartikan istihsan. Istihsan dilakukan antara lain jika terjadi konflik kepentingan, yaitu kepentingan yang ruang lingkupnya lebih sempit, jika ketentuan hukum pada dalil khusus dilaksanakan secara apa adanya, dengan kepentingan yang ruang lingkupnya lebih jelas, yang didukung oleh ketentuan hukum pada dalil yang umum sifatnya.

f) Istishlah
Istilah lain dari istishlah adalah Maslahah Mursalah. Dari segi bahasa, istishlah berarti baik. Istishlah didefinisikan sebagi upaya penetapan hukum yang didasarkan atas kemaslahatan atau kebaikan. Maslahah terbagi tiga yaitu; yang diterima syara’, yang ditolak oleh syara’ dan yang diperselisihkan oleh ulama muslim karena tidak ada dalil, baik yang menerima maupun yang menolaknya.
Penggunaan Istishlah harus memenuhi persyaratan yaitu bukan diukur dengan dugaan semata, sifatnya umum bukan perorangan , tidak bertentangan dengan dalil syara’ yang lain, serta diamalkan dalam kondisi yang memerlukan. Menetapkan ketentuan hukum dengan berdasarkan maslahah mursalah, merupakan bidang yang amat subur untuk mengembangkan hukum islam, khususnya dalam muamalah kemasyarakatan.

g)    Istishhab
Dari segi bahasa, istishhab berarti “minta bersahabat” atau membandingkan sesuatu dan mendekatkannya”. Definisi istishhab ialah melestarikan suatu ketentuan hukum yang telah ada pada masa lampau, hingga ada dalil yang mengubahnya.
Ada dua macam istishhab: Pertama, melangsungkan berlakunya hukum akal mengenai kebolehan atau bebas-asal, pada saat tidak dijumpainya dalil yang mengubahnya. Misal, segala macam makanan dan minuman, yang tidak terdapat dalil syara’ tentang keharamannya adalah mubah atau halal. Kedua, melngsungkan berlakunya hukum syara’ berdasarkan suatu dalil, dan tidak ada dalil lain yang mengubahnya. Misal, jika seseorang telah berwudhu, kemudian ragu-ragu apakah wudhunya telah batal atau belum, maka ia dihukumi belum batal atas dasar keadaan wudhu sebelumnya yang diyakininya. Maka Istishhab hanya menjadi hujah untuk melangsungkan hukum tidak menetapkan hukum baru yag sebelumnya belum ada.

h) ‘Urf
Menurut bahasa, ‘Urf berarti “yang kenal”. Definisi ‘Urf ialah “sesuatu yang dikerjakan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional”. Lebih lengkapnya ‘Urf adalah segala sesuatu yang sudah dikenal oleh manusia karena telah menjadi kebiasaan atau tradisi, baik bersifat perkataan, perbuatan, atau kaitannya dengan meninggalkan perbuatan tertentu.
‘Urf dibagi menjadi 2 macam yaitu ‘urf shahih dan ‘urf fasid. ‘Urf shahih adalah tradisi yang tidak berlawanan dengan dalil syara’ serta tidak menghalalkan yang haram dan tidak pula menggugurkan kewajiban.  ‘Urf fasid adalah tradisi yang berlawanan dengan syara’ atau menghalalkan yang haram dan menggugurkan kewajiban.

i) Sadd al-Dzari’ah
Secara bahasa, sad berarti “penutup” dzariah berarti “jalan yang menuju kepada sesuatu” atau “sesuatu yang membawa kepada yang dilarang dan mengandung kemudharatan”. Menurut pakar studi hukum Islam, dzariah berarti sesuatu yang menjadi perantara kearah perbuatan yang diharamkan. Dengan demikian, Sadd al-Dzariah berarti menutup segala sesuatu yang menjadi sarana kepada yang diharamkan atau yang dihalalkan.

j) Madzhab Shahabi
Mazhab Shahabi adalah pendapat para sahabat Nabi tentang suatu kasus yang dikutip oleh para ulama, baik berupa fatwa atau ketetapan hukum. Sementara itu, al-Qur’an dan Sunnah tidak menjelaskan hukum terhadap kasus yang dihadapi sahabat tersebut serta tidak ditemukan kesepakatan para sahabat yang menetapkan para sahabat tersebut. Maka dalam hal ini terdapat empat pendapat ulama. Pertama, pendapat sahabat tidak dapat dijadikan dalil hukum. Kedua, pendapat shabat Nabi dapat dijadikan dalil hukum dan didahulukan dari Qiyas. Ketiga, madzhab sahabat dapat dijadikan dalil hukum bila dikuatkan dengan Qiyas. Keempat,  madzhab sahabat dapat dijadikan dalil hukum bila bertentangan dengan Qiyas. Pertentangan menunjukkan bahwa pendapat tersebut bukan bersumber dari Qiyas, melainkan dari Sunnah.

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —