Tugas Merancang Jenis dan Bentuk Media Pembelajaran

Pelajaran          : Sejarah Kebudayaan Islam / Tarikh

Kelas               : VII

Semester          : I

Judul               : Sejarah kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.

SK                   : Memahami sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

KD                  : 1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

  1. Menjelaskan misi Nabi Muhammad s.a.w. untuk semua manusia dan bangsa

 

No Pesan/Isi Tipe Indikator Metode Media
1 Kaum jahiliyah di Makkah Fakta Siswa mampu mengemukakan gambaran kaum jahiliyah di Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Diskusi

– Peta Makkah

– Gambar ilustrasi kondisi Makkah

2 Mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. bagi para pengasuhnya Fakta Siswa mampu mengidentifikasi mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang dirasakan oleh para pengasuhnya – Tanya jawab

– Presentasi

– Kartu nama-nama pengasuh Nabi
3 Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad s.a.w. Fakta Siswa mampu menjelaskan biografi Siti Khodijah sebagai salah satu diantara para istri Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Tanya jawab

– Permainan

– Kartu nama-nama istri dan putra-putri Nabi
4 Penentangan Abu Lahab Terhadap Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep, Nilai – Siswa mampu mengkategorikan jenis dakwah Nabi Muhammad s.a.w. terhadap Abu Lahab

– Siswa mampu menyebutkan akhlak Nabi Muhammad s.a.w. ketika mendakwahi Abu Lahab

– Bercerita

– Tanya jawab

– Demonstrasi

– Demonstrasi cara dakwah Nabi
5 Nash al-Quran dan hadits tentang misi Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep,

Nilai

Siswa mampu mengidentifikasi misi Nabi Muhammad s.a.w. dalam ayat al-Quran dan hadits – Tanya jawab

– Diskusi

– Presentasi

– Gambar ilustrasi dakwah para Nabi
Advertisements

DA’I IDOLA: KH. ABDULLAH GYMNASTIAR (Aa Gym)

Mengapa KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Setiap tahun selalu muncul dai-dai baru yang menarik perhatian khalayak negeri yang  mayoritas islam ini. Termasuk yang kami angkat dan kami idolakan disini yakni Kyai H. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym. Sejarah masa kecil dan perjuangan beliau yang berliku dan penuh tempaan membuat siapapun yang mengetahuinya akan terpesona dan mengangkat topi terhadap kekuatan dan semangat beliau untuk senantiasa bangkit dan mendapatkan hal-hal terbaik dan diridhoi oleh Allah s.w.t.

Masa keemasan dakwah beliau cukup manis dan harum di mata para pengagumnya yang melihat bahwa tidak ada dai lain yang mampu memberikan kesan positif hingga masa sekarang. Tak dapat dipungkiri, keberadaan Aa Gym di dunia dakwah nasional juga memberi dampak bagi generasi islam pendakwah yang juga ingin berperan disana. Sikap beliau yang sesuai syari’at, jujur, sederhana, tidak mengada-ada dan mudah diterima di segala kalangan masyarakat seakan menunjukkan bahwa begitulah semestinya akhlak yang mutlak dimiliki dan diaplikasikan oleh setiap individu yang hendak mengajak umat ini menuju ridho Allah s.w.t. dan Rasul-Nya.

 

Kelebihan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Dari sekian banyak kelebihan yang sebagian telah kami ungkap pada muqaddimah awal tadi, masih banyak kelebihan lain dari KH. Abdullah Gymnastiar yang tentunya lebih penting keberadaannya untuk diketahui. Diantaranya, beliau mampu membawakan topik-topik dakwah secara persuasif sejak awal hingga akhir penyampaian beliau. Hal ini menjadi urgent karena perhatian yang konsisten dari para pendengar akan memberikan efek dan pengaruh yang cukup besar pada diri mereka setelah memperhatikan materi dakwah tersebut.

Selanjutnya, beliau menyertakan dan menghubungkan dalam setiap materi dakwahnya dengan contoh-contoh kejadian atau peristiwa yang nyata atau kongkrit, yang berlangsung di sekitar, dan sudah terbukti kesahihannya, dimana kesemuanya menjadikan para pendengar mudah menerimanya dengan segera dan tidak cepat-cepat membuangnya dengan telinga kirinya. Kemudian, beliau memiliki pilihan kata-kata dan bahasa-bahasa yang sederhana (mudah dicerna) dan cepat menyentuh jiwa dan kalbu para pendengarnya sehingga terkesan beliau tidak bermaksud menggurui namun memberikan hikmah yang indah dan efektif menggugah kesadaran siapapun yang mendengarnya.

Dan yang terakhir namun tergolong kelebihan yang jarang dimiliki dai lain ialah Aa Gym seringkali melantunkan nasyid ataupun sholawat (bacaan) yang mampu menggiring pendengarnya terhanyut dalam suara merdu beliau sekaligus dapat meresapi makna lantunan tersebut. Apalagi nasyid atau sholawat tersebut sangat relevan dengan pesan/isi dakwah yang beliau sampaikan yang kadangkala memang memerlukan cara/pendekatan yang demikian untuk membangkitkan lagi perhatian dan semangat mereka kepada pusat pembicaraannya.

 

Kekurangan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Sebagai salah satu penikmat dakwah beliau, kami memandang bahwa kekurangan atau segala yang berlawanan dari kelebihan beliau diatas tidak banyak yang kami catat. Namun, setidaknya ada beberapa hal yang kami perhatikan untuk diperhatikan bersama agar dapat berdakwah secara maksimal. Pertama, Aa Gym yang dahulu memiliki jadwal padat disebabkan model dakwahnya yang familier di berbagai kalangan, terutama ibu-ibu dan wanita, pada ± 5 tahun yang lalu beliau melaksanakan ibadah poligami yang tentunya belum banyak diterima dan mayoritas ditolak oleh ibu-ibu di negeri ini.

Tindakan ini menjadikan sebagian besar penikmat dakwahnya utamanya ibu-ibu tidak lagi mau mendengarkan dakwah beliau lagi bahkan mengecamnya. Sekalipun ibadah ini benar adanya, menurut kami, seorang dai ideal semestinya dapat mengerti kehendak para pendengarnya dan memahami kondisi mereka secara kompleks. Barangkali, jika beliau menginformasikan terlebih dahulu bahwa beliau hendak berpoligami, bukannya mendadak dan tiba-tiba seperti demikian, mungkin para pendengarnya akan mencoba memahami dan mengerti bahwa Islam menghalalkan poligami secara qoth’i dan tidak dapat ditolak keberadaanya.

Hal yang selanjutnya yang kami masukkan kedalam salah satu kekurangan beliau yakni Aa Gym kurang begitu fasih dalam melafalkan ayat-ayat al-Quran ataupun hadits-hadits yang berbahasa arab. Sekalipun kami sendiri bisa sedikit memaklumi karena boleh jadi disebabkan logat bahasa lokal beliau, namun setidaknya harapan kami, seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya beliau berdakwah dan memberikan dalil-dalil naqli tersebut, semestinya semakin membuat kemampuan beliau dalam hal itu dapat bertambah dan tidak begitu-begitu saja. Para pengagum beliau adakalanya berasal dari golongan yang cukup fasih dalam pelafalan ayat atau hadits, baik kyai atau sesama dai lainnya, bilamana beliau dapat mengurangi kekurangan yang satu ini, setidaknya dapat menambah keyakinan dan mereka terhadap apa-apa yang beliau sampaikan secara mantap.

Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK MELALUI FUNGSI EDUKATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

 Oleh

Syaiful Khumaidi

 

Abstrak

Pendidikan semakin mengalami perubahan mengikuti transisi di segala bidang. Pendidikan yang baik menunjukkan kualitas masyarakat di daerah tersebut. Namun tingkah laku dan moral masyarakat pun ikut mengalami pergeseran. Maraknya penodaan moral salah satunya disebabkan buruknya pendidikan. Pendidikan agama islam sebagai pelopor keilmuan memiliki potensi yang besar dalam menanggulangi kemerosotan individu. Pribadi agamis akan mampu meminimalisir akibat buruk dari arus perkembangan yang sangat deras. Karakter agamis sebaiknya dibentuk sejak masa anak hingga mempermudah perjalanan hidupnya kelak.

Kata Kunci: pembentukan, karakter, pendidikan, islam

Pendahuluan

Pergeseran zaman yang cepat mengakibatkan pengembangan dan perubahan pada beragam aspek di berbagai belahan negara. Tak terkecuali aspek pendidikan yang merupakan penanda kualitas dan mutu tiap individu di suatu daerah. Keseluruhan unsur pendidikan pun ikut teraliri arus perubahan yang tak terbendung lagi. Namun seringkali arus perubahan itu ikut merubah moral dan karakter tiap individu.

Semakin maraknya perubahan dan penodaan moral semata-mata dimulai dari kurangnya akhlak atau karakter yang bersifat agamis pada diri seseorang. Seseorang yang mampu menanamkan jiwa yang beragama dengan baik, maka ia dapat menjalani kehidupan multikultural dengan positif. Lain halnya apabila ia kurang berkarakter agamis maka akan dengan mudah melakukan akhlak negatif.

Pendidikan agama islam adalah salah satu cabang aspek pendidikan yang mayoritas dibutuhkan oleh pribadi beragama islam. Ia sebagai pedoman hidup dan merupakan salah satu sarana penanaman karakter yang benar. Didalamnya terdapat contoh-contoh karakter islami yang sangat membantu tiap pribadi dalam menghadapi budaya negatif. Karakter yang baik akan memudahkan pengembangan tiap individu dalam bermasyarakat.

Selain itu, pendidikan agama islam telah mengakar sejak masa lalu hingga sekarang yang tak akan pudar kecuali disebabkan penurunan kualitas pribadi muslim. Dan fakta yang ada mengatakan bahwa individu di zaman sekarang telah mengalami penurunan kualitas dari segi akhlak mereka. Terutama di kalangan pribadi muslim yang seyogyanya menjadi teladan yang baik bagi orang lain.

Karena itu, penulis dalam artikel ini berkeinginan untuk mengungkapan peranan dan efektifitas membentuk karakter dasar anak yang benar melalui fungsi edukatif pendidikan agama islam. Hal ini disebabkan karakter individu sangat dipengaruhi oleh apa yang diterima oleh tiap seseorang sejak masa kecilnya.

 

Pembentukan Karakter Anak

“Karakter” merupakan akar kata dari bahasa latin yang berarti dipahat (Mark Rutland: 2009, 3). Kehidupan seperti balok besi bila dipahat dengan penuh kehati-hatian akan menjadi mahakarya agung. Maka, karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain.

Dalam upaya mendidik karakter anak, harus disesuaikan menurut dunia anak tersebut. Yakni selalu selaras dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pembentukan karakter diklasifikasikan dalam 5 tahapan yang berurutan dan sesuai usia.

Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal mana yang baik dan yang buruk, serta mengenal mana yang diperintahkan.

Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri, antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta dididik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan sholat mereka.

Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian, antara usia 9 sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama, serta mau membantu orang lain.

Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya.

 

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan berasal dari kata “didik” yang berarti melatih atau mengajar. Sedangkan menurut istilah, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Agama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau atau teratur. Agama dapat membebaskan manusia dan kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya. Menurut terminologi agama adalah suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung.

Islam berasal dari bahasa arab berarti selamat sentosa. Sedangkan secara umum adalah agama yang disyari’atkan oleh Allah dengan perantaraan para Nabi dan RasulNya, yang mengandung perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan diakhirat.

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah ilmu yang membahas pokok-pokok keimanan kepada Allah, cara beribadah kepada-Nya, dan mengatur hubungan baik sesama manusia, serta makhluk lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

 

Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam (PAI) mempunyai beragam fungsi atau kegunaan yang sangat luas. Salah satu fungsi terdepan dalam pendidikan agama islam adalah dalam bidang edukasi. Yaitu, pendidikan agama islam selalu mengajarkan dan membimbing semua umatnya agar senantiasa mampu menonjolkan dan mempraktekkan sikap maupun segala jenis tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia juga mendorong setiap individu untuk selalu patuh dan taat serta mengimplementasikan ajaran dan perintah agama

 

Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam sejak dini akan sangat efektif dalam segi edukatifnya untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak yang baik. Ini karena di dalam sebuah ruang lingkup keluarga dibutuhkan keharmonisan dan keseimbangan antar anggotanya. Peran pribadi yang senior diharuskan memberi pelajaran yang junior dan sesuai dengan porsinya sehingga dapat membawa angin perubahan menuju sesuatu yang positif.

Dipandang dari segi keterkaitannya, pembentukan karakter dasar seorang anak sejak dini tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang diajarkan dalam sisi edukatif pendidikan agama islam. Telah begitu banyak bukti dan realita yang benar-benar membuktikan secara nyata bahwasannya pembelajaran pendidikan agama islam berperan besar dan mayoritas mampu mengantarkan tiap individu agamis menghadapi kesulitan dan problematika yang ada dengan arif dan bijaksana.

 

Penutup

Dari makalah ringkas ini, dapat diambil kesimpulan bahwasannya terdapat hubungan timbal balik dan saling berkebutuhan antara pembentukan karakter anak dengan fungsi edukatif pendidikan agama islam (PAI). Ini dapat dilihat dari adanya beberapa keterkaitan antara keduanya.

Keterkaitan tersebut dapat diklasifikasikan dalam 1) keberadaan dalil-dalil otentik dari al quran ataupun hadits yang menunjukkan tentang anjuran dan perintah untuk mendidik karakter anak sejak dini. 2) Karakter pendasaran anak yang terbaik adalah sesuai dengan porsi atau tahapan pemikiran anak tersebut yang bisa ditandai melalui usianya. 3) Fungsi edukatif pendidikan agama islam merupakan solusi terbaik untuk menanamkan karakter atau akhlak yang benar sehingga dapat berguna dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks di masa depan.

 

Saran

Setelah mempelajari makalah ringkas ini kita diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang pentingnya pembentukan karakter anak sejak dini secara benar untuk menuju kehidupan bermasyarakat yang penuh intrik dan multikultural. Diharapkan pula agar dapat menjadikan pendidikan agama islam yang diperoleh sebagai salah satu upaya untuk merubah karakter yang ada, baik ataupun buruk, menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat di dunia dan akhirat

 

 

 

 

 

Daftar Rujukan

 

Abdul Chalik & Ali Hasan Siswanto. 2011. Pengantar Studi Islam. Surabaya: Kopertais IV Press.

Irawati Istadi. 2006. Mendidik Dengan Cinta. Bekasim.

M. Fauzi AG. 2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII. Jakarta.

M. Furqon Hidayatullah. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Mark Rutland. 2009. Karakter Itu Penting Terjemahan Ly Yen. Jakarta.