REVIEW BUKU

Judul               : PENGANTAR EVALUASI PENDIDIKAN

Penulis             : Prof. Drs. Anas Sudijono

Penerbit           : PT. RajaGrafindo Persada / Rajawali Pers (Jakarta)

Tahun              : 2011

 

Makna evaluasi dibatasi pada pengertiannya sebagai proses atau kegiatan yang bertujuan memajukan pendidikan dan guna memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan itu. Evaluasi atau penilaian sangat berhubungan erat dengan pengukuran, dimana hasil-hasil pengukuran menjadi sebagian besar sumber dalam menggambarkan evaluasi yang dilakukan pada suatu lembaga pendidikan.

Fungsi penilaian yang penting dalam dunia pendidikan, diantaranya pada aspek psikologis, didaktik dan administratif. Sedangkan pendidikan sendiri mengklasifikasikan penilaian berdasarkan pada tiga hal, yakni fungsinya, penggunaan informasi, dan sesuai asas pertanyaan “dimana atau pada bagian manakah penilaian tersebut dilakukan”. Sedangkan pelaku atau subyek evaluasi pendidikan, bila menyasar pada prestasi belajar, maka ia adalah guru atau dosen yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Evaluasi hasil belajar dikatakan akan bisa terlaksana dengan maksimal apabila dalam pelaksanaannya selalu berpedoman dengan tiga prinsip dasar pokok, meliputi prinsip keseluruhan, prinsip kesinambungan dan prinsip obyektivitas. Dan sebaliknya, jika tidak menyertakan ketiga unsur penting tersebut, maka akan menodai kemurnian pekerjaan evaluasi itu sendiri.

Kegiatan evaluasi setidaknya harus memiliki ciri-ciri yang akan membedakannya dengan kegiatan lainnya. Pertama, evaluasi yang dilakukan dalam usaha mengukur tingkat keberhasilan peserta didik itu diukur secara tidak langsung. Kedua, pengukurannya itu mayoritas memakai standar ukuran yang bersifat kuantitatif maupun simbol-simbol angka. Dan ketiga, evaluasi secara umum menggunakan satuan-satuan yang tetap dan konsisten. Dalam praktiknya, evaluasi diawali dengan menyusun evaluasi hasil belajar, menghimpun data, melakukan verifikasi data, mengolah-menganalisis data, memberikan interpretasi maupun menarik kesimpulan, serta diakhiri dengan proses menindak lanjuti hasil evaluasi tersebut.

Tes merupakan cara atau prosedur dalam upaya melakukan pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, sehingga akan dihasilkan nilai yang dapat dilambangkan. Berdasarkan fungsinya, ada beberapa teknik tes untuk mengukur perkembangan dan kemajuan belajar dari peserta didik. Diantara yang tergolong jenis itu adalah tes seleksi, tes awal, tes akhirm tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.

Adapun teknik non-tes dapat dirupakan dalam bentuk pengamatan secara sistematis, melakukan wawancara, menyebarkan angket dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen. Berkebalikan dari kegunaan teknis tes yang berkutat di ranah kognitif peserta didik, maka teknik non-tes ini meliputi ranah afektif dan psikomotorik mereka.

Sebuah tes hasil belajar dapat dikategorikan baik bila memiliki validitas, reliabilitas, obyektifitas dan nilai praktis yang tepat. Karakteristik tersebut lebih sempurna lagi bila disertai dengan lima prinsip dalam menyusun dan membuat sebuah tes hasil belajar. Diantara kelima prinsip itu terdapat prinsip (1) dapat mengukur hasil belajar (learning outcomes) sesuai tujuan instruksional, dan (2) tiap butir soal tes itu merupakan sampel representatif yang mewakili keseluruhan performance yang didapat peserta didik.

Bentuk tes hasil belajar diklasifikasikan dalam dua bentuk, yakni tes uraian dan tes obyektif. Adapun tes uraian atau juga dikenal dengan essay test yang umumnya berbentuk pertanyaan, dimana mengharuskan peserta didik menjawab dengan paparan kalimat yang terkadang agak panjang dan penjelasan yang cukup detail. Dalam menyusunnya, dapat dimulai menyesuaikan dengan ide-ide pokok materi pelajaran, lalu membuat susunan kalimat yang berlainan dengan kalimat pada buku, membuat kunci jawabannya yang terumuskan secara tegas, merancang variasi bentuk kalimat perintah yang cukup beragam, meringkas susunan kalimat soal yang dirasa terlalu panjang dan disertakan pedoman cara mengerjakan soalnya.

Dalam praktiknya, pelaksanaan tes hasil belajar dapat dilakukan secara tertulis, lisan ataupun dengan perbuatan. Ketiga jenis ini sebaiknya dijalankan sesuai dengan pedoman yang benar agar terlaksana secara optimal dan meminimalisir kecurangan peserta didik. Diantaranya ketika tes tertulis, data-data berita acara pelaksanaan tes harus tercatat dan terdokumentasi secara baik. Dan ketika tes perbuatan, setiap tester telah menyiapkan instrument berupa lembar penilaian yang tersusun sistematis dan terencana.

Validitas merupakan salah satu ciri yang menandakan tingkat kebaikan suatu tes hasil belajar. Untuk menentukannya, dapat dilihat dari 2 segi, yakni segi tes itu sendiri sebagai suatu totalitas dan segi itemnya. Dalam mengamati segi totalitasnya, dapat diketahui dengan cara menganalisa dengan jalan berpikir secara rasional dan menganalisa berdasarkan kepada kenyataan empiris melalui empirical analysis. Suatu tes dapat dianalisa kerasionalannya lewat dua hal, meliputi isinya (content) dan susunannya (construct). Sedangkan tingkat empirik tes belajar dapat ditelusuri melalui 2 unsur, yakni daya ketepatan meramalnya (predictive validity) dan bandingannya (concurrent validity).

Item-item dalam tes juga dibutuhkan suatu proses untuk mengetahui tingkat validitasnya. Proses tersebut ialah teknik korelasi sebagai alat analisanya. Sebuah item soal dapat dinyatakan valid jika terbukti memiliki korelasi positif yang cukup signigfikan dengan skor totalnya.

Tes hasil belajar juga sebaiknya memiliki tingkat reliabilitas yang cukup tinggi. Adpapun untuk tes yang berbentuk uraian, dapat diketahui melalui acuan khusus, seperti dengan rumus alpha. Sedangkan untuk tes yang berbentuk obyektif, penentuan reliabilitasnya dijalani melalui tiga macam pendekatan, meliputi single test-single trial, test-retest/single tes-double trial, dan alternate form/double test-double trial.

Beragamnya jenis pelaksanaan tes hasil belajar tentunya akan menuntut adanya keragaman dalam pemeriksaan hasil-hasilnya, sehingga dibutuhkan cara yang tepat dalam mengoreksi dan menilai hasil tersebut secara baik. Penggunaan kunci jawaban sebagai alat koreksi pada tes uraian obyektif setidaknya memiliki 4 model yang bisa dipergunakan, yaitu kunci berdamping (strip keys), kunci sistem karbon (carbon system keys), kunci sistem tusukan (pinprick system keys), dan kunci berjendela (window keys). Adapun tes tulis subyektif, sebaiknya penguji memiliki pedoman yang kuat dan disiplin dalam penerapannya agar nilai yang dihasilkan dapat merepresentasikan penguasaan dan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Pemberian skor merupakan langkah awal dalam pengolahan hasil tes yang selanjutnya akan diubah menjadi nilai-nilai (grade) dengan penggunaan symbol tertentu. Untuk tes uraian, skoring umumnya didasarkan pada bobot setiap butir soal dan tingkat kesukarannya. Perlu diketahui, bahwa di tanah air kita, nilai standar yang dianut pada tingkat dasar dan menengah adalah berskala sebelas (stanel), sedangkan pada tingkat pendidikan tinggi mengacu pada skala lima (stanfive) atau nilai huruf. Penilaian berpatokan atau yang beracuan kriterium dengan standar mutlak sebaiknya diterapkan pada tes yang bersifat standar atau mendekatinya, sehingga akan mampu menghasilkan bukti yang dapat diandalkan ketepatannya, dari segi derajat kesukaran, daya beda, fungsi distraktor, validitas hingga reliabilitasnya.

Identifikasi terhadap setiap butir item tes hasil belajar juga dilakukan pada langkah berikutnya, mengingat pentingnya sekolah mengetahui informasi dalam upaya perbaikan, pembenahan dan penyempurnaan tes-tes di masa mendatang. Karenanya, diadakan suatu pengukuran dengan kualitas yang tinggi yang sering disebut dengan analisis item (item analysis). Penganalisaan ini diterapkan dalam tiga segi, meliputi derajat kesukaran, daya beda dan fungsi distraktor tiap itemnya. Namun yang tidak boleh dilupakan, setelah melakukan analisa item tersebut, seharusnya dapat ditindak lanjuti demi kebaikan dan kemajuan, bila tidak maka dikhawatirkan akan sia-sia belaka.

Tahapan terakhir yang sangat penting pula dilakukan ialah penentuan nilai akhir. Nilai akhir yang baik akan dapat berfungsi pada segi administratif, informatif, bimbingan dan instruksional pada kedua belah pihak, pendidik dan peserta didik. Faktor yang perlu diperhatikan pendidik dalam memberikan nilai akhir diantaranya faktor pencapaian (achievement), usaha (effort), aspek pribadi-sosial (personal and social characteristics) dan kebiasaan kerja (work habbit) dari setiap anak didiknya, sehingga akan diperoleh nilai yang komprehensif.

Adapun penentuan ranking sangat berguna sebagai laporan dan informasi penting untuk pihak-pihak atasan, orang tua peserta didik maupun bagi peserta didik itu sendiri. Dalam praktiknya, penentuan rangking memiliki beberapa jenis, diantaranya ranking sederhana (simple rank) dan ranking persenan (percentile rank). Sebagai hasil nyatanya, salah satu bentuk lain yang umumnya dapat dilakukan ialah dengan membuat profil prestasi belajar. Dengan ini, pendidik akan memperoleh gambaran secara visual mengenai perkembangan dan hasil apa yang telah dicapai oleh peserta didiknya.