REVIEW BUKU (2)

Judul               : EVALUASI HASIL BELAJAR

Penulis             : Dr. Purwanto, M.Pd

Penerbit           : Pustaka Belajar (Yogyakarta)

Tahun              : 2011

 

Sebagai sebuah program, pendidikan memerlukan evaluasi apabila ingin diketahui efektivitasnya.  Evaluasi merupakan pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran (pengumpulan data) dan kriterianya. Oleh karenanya kegiatan evaluasi harus didahului dengan kegiatan pengukuran. Dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria, keputusan evaluasi dapat dibuat. Pengukuran dilakukan agar pengambilan keputusan evaluasi dapat diambil secara akurat. Dalam pelaksanaannya, evaluasi dapat berfungsi penempatan, seleksi, diagnostik, dan pengukur keberhasilan.

Berbagai pihak seperti guru, siswa, sekolah, masyarakat dan pemerintah memperoleh manfaat dari kegiatan evaluasi pendidikan. Pengukuran dan evaluasi pendidikan mempunyai sejumlah ciri yaitu bersifat tidak langsung, menggunakan ukuran kuantitatif dan mengandung kesalahan.

Pendidikan merupakan sebuah program yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sistem. Program adalah kegiatan yang akan dilakukan dengan perencanaan dan tujuan yang akan dicapai. Sebagai sebuah program pendidikan memerlukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan program yang direncanakan dapat dicapai. Evaluasi program berhubungan dengan komponen dan aspek yang akan dievaluasi. Terdapat beberapa model pengembangan evaluasi program pendidikan. Perbedaan model terletak pada perbedaannya pada komponen dan aspek yang dievaluasi. Model-model itu adalah model pengukuran, kesesuaian, evaluasi sistem, dan iluminatif. Evaluasi model pengukuran mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif. Model kesesuaian mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Model evaluasi sistem mengevaluasi semua komponen pendidikan secara terpisah-pisah dan kuantitatif. Model iluminatif mengevaluasi seluruh komponen sebagai sebuah keutuhan secara kuantitatif.

Tujuan pendidikan merupakan perubahan perilaku yang direncanakan dapat dicapai melalui proses belajar mengajar. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik.

Domain-domain dalam perilaku kejiwaan bukanlah kemampuan tunggal. Untuk kepentingan pengukuran hasil belajar domain-domain disusun secara hirarkhis dalam tingkat-tingkat mulai dari yang paling rendah dan sederhana hingga yang paling tinggi dan kompleks. Dalam domain kognitif diklasifikasikan menjadi kemampuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Dalam domain afektif hasil belajar meliputi level: penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan karakterisasi. Sedang domain psikomotorik terdiri dari level: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas.

Untuk memperoleh data yang obyektif, maka pengumpulannya dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran melakukan pengumpulan data menggunakan alat ukur atau instrument. Dalam pendidikan, pengumpulan data dengan cara melakukan pengukuran juga dapat dilakukan. Pengukuran dilakukan atas atribut yang disebut variabel. Berdasarkan perlu tidaknya instrument factual dan konsep. Sedang menurut penampilan responden dalam memberikan respons atas instrument, variabel dapat berupa variabel tipikal dan maksimal. Instrument pendidikan, seperti juga alat ukur yang lain, harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.

Tes merupakan salah satu jenis instrument, disamping non-tes. Tes sebagai instrument berhubungan dengan fungsinya untuk mengukur penampilan maksimal. Dalam kegiatan pengukurannya, tes dapat dibagi menjadi dua yaitu tes yang mengukur penguasaan dan tes yang mengukur kemampuan. Tes penguasaan mengukur apa yang telah dikuasai oleh siswa dari materi yang yang telah dipelajari. Dengan kata lain, tes penguasaan mengukur apa yang diperoleh, sedangkan tes kemampuan mengukur apa yang dimiliki.

Tes hasil belajar (THB) merupakan salah satu jenis tes yang mengukur penguasaan. Menurut macamnya, THB terdiri dari tes formatif, sumatif, diagnostik, dan penempatan. Menurut bentuknya, THB dapat berbentuk esai dan obyektif. Komponen THB terdiri dari perangkat, petunjuk pengerjaan, butir soal, pilihan, kunci jawaban dan pengecoh. Dalam pelaksanaannya, THB dapat dilakukan dengan pengamatan, lisan, tertulis atau analisis dokumen karya.

Menilai hasil belajar siswa adalah pengambilan keputusan penting yang menentukan nasib akademik siswa, sehingga harus didasarkan pada data yang tepat dan akurat. Data hasil belajar yang menjadi dasar penilaian haruslah obyektif, bebas dari pertimbangan subyektif dan dapat diuji kembali. Data demikian diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes hasil belajar. Data hasil belajar yang baik diperoleh dari pengukuran menggunakan tes hasil belajar yang baik. THB yang baik digunakan setelah melalui proses pengembangan. Pengembangan THB dilakukan melalui beberapa kegiatan: identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, uji kualitas dan kompilasi butir THB.

Sebagai sebuah alat ukur, THB harus memenuhi syarat ukur yang baik yaitu validitas dan reliabilitas. Sebelum pengujian syarat alat ukur yang baik dilakukan, maka terlebih dahulu butir-butir THB harus diuji coba menggunakan analisis butir. Analisis butir dapat dilakukan menggunakan teori klasik atau modern. Oleh karena pertimbangan kepraktisan, tes klasik lebih banyak digunakan dengan beberapa kekurangannya.

Dalam analisis butir menggunakan teori tes klasik, karakteristik butir yang diuji adalah tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Dalam pengujian itu keputusan butir yang baik didasarkan oleh beberapa kriteria yaitu tingkat kesukaran harus sedang, daya beda harus positif dan tinggi, dan pengecoh harus dipilih paling tidak satu orang peserta tes.

Validitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Validitas berhubungan dengan kemampuan THB untuk mengukur keadaan yang akan diukurnya. Pengujian validitas dapat dikelompokkan menjadi tiga: validitas isi, kriteria dan konstruk. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan cara menelaah butir, meminta pertimbangan ahli dan menghitung korelasi butir dengan total. Pengujian validitas kriteria dapat berupa validitas konkuren dan prediktif. Pengujian validitas konstruk dapat dilakukan dengan menelaah butir, meminta pertimbangan ahli, konvergensi dan diskriminabilitas, multirait-multimethod, dan analisis faktor.

Analisi Faktor (AF) merupakan analisis uji validitas konstruk. Analisis dilakukan dengan menguji butir-butir atau variabel-variabel yang sangat banyak diringkas menjadi faktor-faktor yang lebih sedikit dan sederhana. Peringkasan dilakukan dengan menyatukan butir-butir atau variabel-variabel yang mempunyai varians faktor bersama yang besar ke dalam satu faktor Karena dalam keadaan demikian butir-butir atau variabel-variabel tersebut sebenarnya mengukur dimensi yang sama. Dalam penggunaannya, AF dapat dilakukan secara eksploratif maupun konfirmatif.

AF ditempuh dengan prosedur yang melibatkan beberapa langkah yaitu: menguji kelayakan analisis, menyajikan matriks korelasi, melakukan ekstraksi, melakukan rotasi dan memberi nama faktor. Hasil perhitungan dari langkah-langkah uji akan ditafsirkan. Data dapat dianalisis bila sampel cukup dan berdistribusi normal. Hal itu ditunjukkan oleh koefisien KMO minimal 0,80 dan taraf signifikansi yang ditetapkan dibawah rekomendasi hasil perhitungan. Butir yang mempunyai dimensi sama memiliki eigenvalues minimal 1,00. Sebuah butir memberi dukungan pada sebuah faktor bila mempunyai muatan faktor minimal 0,30. Faktor hasil proses rotasi selanjutnya diberi nama atau label sesuai dengan sifat butir-butir muatannya.

Reliabilitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Reliabilitas adalah koefisien yang menunjukkan kemampuan THB untuk memberikan hasil pengukuran yang relatif tetap dan konsisten. Reliabilitas dapat dipandang sebagai stabilitas internal dan konsistensi internal. Metode pengujian yang memandang reliabilitas sebagai stabilitas eksternal adala metode tes ulang dan paralel. Sedang metode yang memandang reliabilitas sebagai koefisien konsistensi internal adalah metode belah dua, Flanagan, Rulon, Kuder Richardson, Hoyt, dan Alpha Cronbach.

Keputusan reliabilitas dilakukan dengan mengonfirmasikan koefisien reliabilitas hasil perhitungan dengan kriteria batas tertentu. Beberapa memandang kriteria itu merupakan batas relatif, beberapa memberikan petunjuk tentang besar koefisien minimal, beberapa yang lain memandang koefisien reliabilitas sebagai koefisien korelasi yang konfirmasi signifikansinya menggunakan tabel.

Disamping koefisien reliabilitas, dalam THB yang digunakan untuk mengukur skor-skor yang akan dibandingkan secara individual, maka untuk menilai kecermatan THB dalam mengukur, perlu dipertimbangkan pula kesalahan standar pengukuran. Kesalahan standar pengukuran merupakan ukuran yang dapat digunakan untuk menilai akurasi skor yang diperoleh dari kegiatan pengukuran.

Data hasil belajar adalah keterangan kuantitatif mengenai hasil belajar siswa. Data itu mencerminkan perubahan perilaku siswa setelah belajar. Data hasil belajar dapat dikelompokkan dalam beberapa macam. Menurut cara pengumpulannya, data hasil belajar dibagi menjadi data primer dan sekunder. Sedang menurut sumber yang menjadi obyek pengumpulan data, data hasil belajar dapat diambil dari sampel atau populasi.

Data hasil belajar dihasilkan dari pengukuran menggunakan THB yang menghasilkan skor. Perhitungan skor dilakukan berdasarkan aturan skoring. Pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan mengubah jawaban peserta tes kedalam ukuran kuantitatif berdasarkan aturan skoring yang ditetapkan. Dalam pengukuran menggunakan THB, aturan skoring yang digunakan sangat dipengaruhi oleh bentuk THB dan ketentuan mengenai denda.

Skor data hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam. Menurut unsurnya, skor dapat berupa skor murni, skor amatan dan skor kesalahan. Sedang menurut jumlah unsurnya, skor dapat berupa skor tunggal atau gabungan.

Statistika membantu mengolah skor data hasil belajar menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam melakukan analisis data hasil belajar, statistika melibatkan proses pengumpulan, penyajian dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur menggunakan tes hasil belajar. Penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel dan grafik, khususnya tabel distributif dan kurva. Pengolahan data dilakukan menggunakan statistika deskriptif khususnya mean dan standar deviasi.

Hasil pengukuran berupa skor belum mempunyai arti untuk dapat digunakan dalam membuat keputusan. Skor hanya bermakna dan dapat digunakan untuk membuat keputusan setelah diubah menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam mengubah skor menjadi nilai, proses penilaian menggunakan skala dan acuan tertentu. Oleh karenanya pemberian makna kepada nilai dalam pengambilan keputusan harus mempertimbangkan skala dan acuan yang digunakan untuk mengubah skor menjadi nilai.

Advertisements