Tugas Merancang Jenis dan Bentuk Media Pembelajaran

Pelajaran          : Sejarah Kebudayaan Islam / Tarikh

Kelas               : VII

Semester          : I

Judul               : Sejarah kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.

SK                   : Memahami sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

KD                  : 1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

  1. Menjelaskan misi Nabi Muhammad s.a.w. untuk semua manusia dan bangsa

 

No Pesan/Isi Tipe Indikator Metode Media
1 Kaum jahiliyah di Makkah Fakta Siswa mampu mengemukakan gambaran kaum jahiliyah di Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Diskusi

– Peta Makkah

– Gambar ilustrasi kondisi Makkah

2 Mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. bagi para pengasuhnya Fakta Siswa mampu mengidentifikasi mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang dirasakan oleh para pengasuhnya – Tanya jawab

– Presentasi

– Kartu nama-nama pengasuh Nabi
3 Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad s.a.w. Fakta Siswa mampu menjelaskan biografi Siti Khodijah sebagai salah satu diantara para istri Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Tanya jawab

– Permainan

– Kartu nama-nama istri dan putra-putri Nabi
4 Penentangan Abu Lahab Terhadap Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep, Nilai – Siswa mampu mengkategorikan jenis dakwah Nabi Muhammad s.a.w. terhadap Abu Lahab

– Siswa mampu menyebutkan akhlak Nabi Muhammad s.a.w. ketika mendakwahi Abu Lahab

– Bercerita

– Tanya jawab

– Demonstrasi

– Demonstrasi cara dakwah Nabi
5 Nash al-Quran dan hadits tentang misi Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep,

Nilai

Siswa mampu mengidentifikasi misi Nabi Muhammad s.a.w. dalam ayat al-Quran dan hadits – Tanya jawab

– Diskusi

– Presentasi

– Gambar ilustrasi dakwah para Nabi
Advertisements

Jual Beli Dalam Islam: Ijarah Dan Musaqah-Muzara’ah-Mukhabarah

IJARAH (SEWA-MENYEWA)

Kata ijarah secara bahasa ijarah berarti jual beli manfaat. Menurut ulama Syafi’iyah, ijarah ialah transaksi terhadap suatu manfaat yang dituju tertentu, bersifat mubah dan boleh dimanfaatkan dengan imbalan tertentu. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa ijarah adalah transaksi atas suatu manfaat.

Menurut jumhur ulama, rukun ijarah adalah (1) Orang yang berakad (orang yang menyewakan barang dan penyewa), (2) Sighat, (3) Ujrah (ongkos sewa), dan (4) Manfaat.

Adapun syarat-syarat ijarah adalah:

a)         Pihak-pihak yang berakad telah baligh dan berakal,

b)        Kedua pihak yang berakad menyatakan kerelaannya untuk melakukan akad ijarah,

c)         Manfaat yang menjadi obyek ijarah harus diketahui secara sempurna,

d)        Obyek ijarah boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat,

e)         Obyek ijarah adalah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’,

f)         Yang disewakan itu bukan suatu kewajiban bagi penyewa,

g)        Obyek ijarah merupakan sesuatu yang biasa disewakan,

h)        Upah sewa dalam akad ijarah harus jelas,

i)          Upah sewa tidak sejenis dengan manfaat yang disewa.

6.       MUSAQAH, MUZARA’AH DAN MUKHABARAH

Musaqah adalah pemburuhan pemilik pohon kurma atau anggur yang tertanam, ditentukan dalam akad dan diketahui kedua pihak, bagi orang lain agar merawat dan mengairinya, dengan janji upah bahwa buah yang baru atau yang telah ada, dimiliki bersama.

Musaqah tidak boleh dilakukan untuk selain pohon kurma dan anggur, kecuali dengan mengikutkan pada salah satu dari keduanya. Qoul Qodim Imam Syafi’i memperbolehkan akad musaqah pada semua jenis pohon. Imam Malik dan Ahmad sependapat. Sebagian ulama Syafi’iyah juga memilih pendapat ini.

Dasar hukum musaqah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Amr r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. “Memberikan tanah khaibar dengan bagian separoh dari penghasilan, baik buah-buahan maupun pertanian.” Dan pada riwayat lain dinyatakan bahwa Rasul menyerahkan tanah khaibar itu kepada Yahudi, untuk diolah dan modal dari hartanya, penghasilan separohnya untuk Nabi.

Rukun musaqah adalah (1) Shigat, (2) Dua orang yang akad (al-aqidain), (3) Objek musaqah (kebun dan semua pohon yang berbuah), (4) Masa kerja, dan (5) Buah. Adapun syarat-syarat musaqah adalah (1) Ahli dalam akad, (2) Menjelaskan bagian penggarap, (3) Membebaskan pemilik dari pohon, (4) Hasil dari pohon dibagi antara dua pihak, dan (5) Sampai batas akhir, yakni menyeluruh sampai akhir.

Muzara’ah adalah pemburuhan pemilik bumi kepada orang lain (pekerja) agar menggarapnya, dengan janji pekerja memperoleh bagian tertentu dari hasilnya, sedang bibit dari pemilik bumi. Jika bibitnya berasal dari penggarap (amil), maka disebut Mukhabarah. Muzara’ah dan Mukhabarah hukumnya tidak boleh karena ada dalil yang melarangnya. As Subki dan golongan ulama lain memperbolehkannya dan berdalil dengan apa yang pernah dilakukan oleh Umar r.a. dan penduduk Madinah.

Rukun Muzara’ah adalah (1) Tanah, (2) Perbuatan pekerja, (3) Modal, dan (4) Alat-alat untuk menanam.

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —

Jual Beli Dalam Islam: Rahn Dan Syirkah

RAHN

Rahn ialah tsubut dan habs yakni penetapan dan penahanan.  Syekh Zainuddin Al Malibari menjelaskan, rahn ialah menjadikan barang yang sah dijual sebagai kepercayaan utang, dimana akan dibayar daripadanya, jika terpaksa tidak dapat melunasi utang.

Dasar hukum rahn didasarkan pada firman Allah s.w.t:

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya” (QS. Al Baqarah: 283)

Dan telah diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, dari Siti Aisyah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. pernah membeli makanan dengan menggadaikan baju besi.

Adapun rukun rahn adalah (1) Aqid (yang berakad), yaitu rahin (yang menggadaikan) dan murtahin (yang menerima gadai), (2) Marhun (yang dijadikan jaminan), (3) Marhun bih (utang), dan (4) Shighat (ijab qabul).

SYIRKAH (PERSEROAN/PERSERIKATAN)

Syirkah ialah perserikatan suatu harta yang dimiliki oleh 2 orang dari hasil pewarisan atau pembelian. Dapat juga didefinisikan sebagai perserikatan 2 orang untuk memperdagangkan harta mereka berdua secara bersama.

Syarat-syarat syirkah adalah (1) Dua pihak yang bertransaksi untuk mewakilkan dan menerima perwakilan, (2) Modal syirkah diketahui, (3) Modal syirkah ada pada saat transaksi, dan (4) Besar keuntungan diketahui dengan penjumlahan yang berlaku.

Syirkah dapat menjadi batal (tidak sah) dikarenakan:

a)         Perserikatan 2 orang yang sama-sama bekerja, yang hasil pekerjaan mereka dibagi berdua dengan sama besar atau berselisih,

b)        Perserikatan 2 orang untuk menanggung harta pembelian suatu barang, baik secara bon atau kontan dengan keuntungan menjadi milik bersama,

c)         Perserikatan 2 orang untuk bersama-sama bekerja dan memiliki keuntungan, baik dengan tenaga maupun harta mereka, dan mereka sama-sama menanggung kerugian yang terjadi.

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —

Konsep Tentang Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj yang berarti jalan yang terang, yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Selain itu, kurikulum juga dapat dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai pendidikan.

M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.

Kurikulum dalam pendidikan Islam, berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.

Berdasarkan beberapa definisi dan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar.

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —

Jual Beli Dalam Islam: Bai’, Qardl Dan ‘Ariyah

BAI’ (JUAL-BELI)

Bai’ menurut bahasa ialah menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Bai’ menurut syara’ ialah menukarkan harta dengan harta lain dengan cara (syarat) tertentu. Maka bai’ diartikan sebagai bentuk mu’amalah dengan saling tukar-menukar barang atau harta menggunakan benda tukar yang saling bermanfaat dan terjadi perpindahan milik dan kepemilikan dengan syarat dan rukun tertentu.

Macam-macam hukum bai’ yaitu:

a)         Mubah, adalah hukum awal jual beli, berdasarkan firman Allah s.w.t.:

Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al Baqarah: 275).

b)        Wajib, semisal penimbunan barang dari pasar sehingga harga naik, maka pemerintah boleh memaksa pedagang untuk menjual dengan ketentuan pemerintah,

c)         Haram, semisal jual beli yang terlarang,

d)        Sunnah, semisal jual beli kepada sahabat atau orang yang sangat membutuhkan barang itu.

Rukun bai’ meliputi (1) Orang yang beraqad atau penjual dan pembeli (Muta’aqidan), (2) Barang yang diperjual-belikan (Mabi’), (3) Harga atau nilai tukar (Tsaman), dan (4) Ijab Qabul (Aqdul Bai’). Sedangkan macam-macam bai’ adalah (1) Bai’us Sharf, (2) Salam (pemesanan), dan (3) Bai’ul Wafa’.

QARDL (HUTANG/PINJAMAN)

Qardl menurut bahasa ialah potongan. Qardl menurut pandangan syara’ adalah sesuatu yang dipinjamkan atau hutang yang diberikan. Qardl berarti memberikan hak milik kepada seseorang dengan janji harus mengembalikan sama dengan yang diutangkan.

Dasar hukum qardl berdasarkan firman Allah s.w.t.:

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al Maidah: 2)

Begitu juga telah dijelaskan dalam hadits Rasulullah s.a.w.:

من أقرض لله مرتين كان له مثل أجر أحدهما لو تصدق به

Artinya: “Barang siapa yang mengutangkan sebanyak 2 kali karena mengharapkan ridlo Allah s.w.t. maka ia akan mendapatkan pahala sebesar menyedekahkan salah satunya.”

Adapun syarat-syarat qardl meliputi (1) Besar qardl harus diketahui, (2) Sifat qardl harus diketahui, (3) Qardl  berasal dari orang yang layak dimintai pinjaman.

‘ARIYAH (PINJAM-MEMINJAM)

‘Ariyah ialah suatu akad yang memberikan wewenang untuk mengambil manfaat terhadap suatu barang yang halal dimanfaatkan dalam keadaan masih utuh barangnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Asal hukumnya adalah sunnah. Jadi, ‘ariyah adalah memberikan manfaat suatu barang dari seseorang kepada orang lain secara cuma-cuma (gratis). Bila digantikan dengan sesuatu atau ada imbalannya, hal itu bukan ‘ariyah.

Menurut Syafi’iyah, ‘ariyah adalah kebolehan mengambil manfaat dari seseorang yang membebaskannya, apa yang mungkin untuk dimanfaatkan, serta tetap zat barangnya supaya dapat dikembalikan kepada pemiliknya.

Dasar hukum ‘ariyah didasarkan pada firman Allah s.w.t.:

Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah: 245)

Secara umum, jumhur ulama fiqih menyatakan bahwa rukun ‘ariyah adalah (1) Mu’ir (yang meminjamkan), (2) Musta’ir (peminjam), (3) Mu’ar (barang yang dipinjam), dan (4) Shighat akad (ijab qabul).

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —

Peradaban Islam: Masa Kemunduran Daulah Abbasiyah, Masa Dominasi Pasukan Pengawal Turki

Untuk mengontrol pemerintahannya, Khalifah al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan khurasan, yang sebagai imbalannya ia diangkat sebagai gubernur di Khurasan, 820 sampai 822 M, dan jenderal bagi seluruh pasukan ‘Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Hal ini berakibat sang khalifah tidak dapat menguasai secara langsung seluruh kekuatan. Ia diharuskan bersekutu dengan bangsawan yang paling berpengaruh.

Untuk membuat keseimbangan, Khalifah al-Ma’mun dan al-Mus’tashim menyusun dua kekuatan bersenjata. Pasukan pertama, adalah pasukan syakiriyah, yang merupakan satuan-satuan dari Transoxiana, Armenia, dan Afrika Utara yang dipimpin oleh para pimpinan lokal mereka. Walaupun tidak berada dibawah perintah langsung khalifah, mereka dapat menjadi penyeimbang kaum Tahiriah. Pasukan kedua, adalah pasukan gilman, yang terdiri dari budak-budak belian berkebangsaan Turki. Mereka dilatih dan digaji oleh para komandan dan tinggal dalam kompleks-kompleks yang dilengkapi pasar dan masjid tersendiri. Karena itu, mereka lebih setia kepada komandan daripada kepada Khalifah.

Pasukan budak turki ini pada mulanya dapat memperkuat kekuasaan Khalifah, namun kemudian menjadi masalah ketika mereka bentrok dengan penduduk Baghdad dan tentara-tentara arab dalam pasukan reguler Baghdad. Kemudian oleh Khalifah al-Mu’tashim, mereka ditempatkan di Samarra, yang dibangun khusus untuk mereka pada tahun 836 M, 70 mil sebelah utara Baghdad. Kota ini kemudian menjadi kantor pusat militer Khalifah. Akan tetapi, pembangunan markas militer di Samarra ini justru membuat khalifah terperosok dalam pertikaian dan persaingan antar resimen. Para perwira menarik birokrat sipil ke dalam perlindungan mereka, mengontrol pemerintahan provinsi dan akhirnya berusaha untuk mengontrol suksesi kekhalifahan. Persaingan antar kesatuan membawa kepada kekacauan dan pertikaian berdarah. Antara tahun 861 sampai 870 M, semua perwira yang berwibawa terbunuh, maka pasukan pun bercerai berai dan menjadi pengacau.

Pada masa ini, mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri.Oleh karena itu, kekuasaan pemerintah pusat menjadi sangat lemah dan tidak mampu mengontrol kekuasaan provinsi di wilayah yang jauh. Ketidak mampuan ini selain karena campur tangan militer, juga disebabkan oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru di pinggiran dan timbulnya sistem birokrasi yang tidak sehat. Juga karena adanya kemungkinan para pejabat membangun jaringan kekuasaan diri sendiri, tanpa harus mengabdi sepenuhnya kepada khalifah. Efek terburuknya, di saat mereka berhasil membuat kelompok-kelompok dan fraksi-fraksi untuk tujuan memperoleh keuntungan pribadi masing-masing anggota kelompok.

Para pejabat menganggap jabatan mereka sebagai hak milik, yang untuk memperoleh dan mempertahankannya mereka dapat melakukan segala cara, seperti menyogok kepada Khalifah dan para pejabat istana. Akibatnya, jabatan itu dipakai untuk mencari keuntungan dan menumpuk kekayaan. Anehnya, Khalifah dan kelompok-kelompok oposisi berkeinginan untuk mendapatkan kekayaan yang dikumpulkan oleh pejabat yang sedang menjabat itu. Dari sini, lahir kebiasaan membelah kekayaan pejabat yang dicopot dari jabatannya. Kantor khusus dibentuk untuk mengurusi kekayaan hasil penyitaan ini, Diwan al-Mushadarah, untuk mengurusi tanah-tanah sitaan dan Diwan al-Marafiq untuk mengurusi harta sogokan yang disita. Ini menunjukkan bahwa Khalifah masih mempunyai kekuasaan walaupun hanya terbatas pada penggantian pejabat sebagai satu-satunya jalan untuk menyita kekayaan kerajaan yang dicuri oleh pejabat yang diganti.

Pemberian hak pengolahan tanah (iqtha’) kepada tentara dan pejabat, dengan membayar langsung sebagian hasilnya kepada pemerintah pusat, untuk jangka pendek dapat memberikan pemasukan kepada Khalifah. Akan tetapi, karena pemegang hak ini dapat menjual haknya kepada orang lain, maka yang terjadi kemudian adalah lahirnya penguasa-penguasa tanah kelas kakap yang mencaplok penguasa-penguasa kecil dan petani. Pada gilirannya, penguasa tanah kelas kakap ini tidak jarang menolak kemauan pemerintah pusat. Pemerintah pusat juga menerapkan sistem pertanian berpajak di Irak dan Iran Barat. Dengan sistem ini, petani membayar pajak untuk pengolahannya atas tanah kerajaan. Persoalan kemudian timbul dari sistem penarikan pajak. Pemerintah pusat, untuk mendapatkan uang dengan segera, menjual hak penarikan pajak atas petani kepada penarik pajak. Walaupun ada pengawasan dari pemerintah atas penarik pajak itu, dalam kenyataannya petani ditekan untuk membayar pajak sesuai dengan kemauan penariknya yang bekerja sama dengan penguasa lokal.

Akibat lemahnya kekuasaan pusat, banyak provinsi pinggiran yang semula diperintah oleh penguasa yang membayar upeti kepada pemerintah pusat menjadi merdeka dan beberapa provinsi yang semula diperintah langsung oleh pusat menjadi provinsi pinggiran, memerintah sendiri dengan membayar upeti kepada pusat.Pemberontakan kaum kulit hitam yang disebut Zanj juga terjadi di Basrah dan cukup menguras banyak tenaga.

Setelah melalui berbagai intrik dan persaingan di kalangan para perwira Turki, Al-Mutawakkil naik tahta pada tahun 232 H / 847 M. Tindakannya yang perlu dicatat adalah menghentikan mihnah dan pembicaraan mengenai apakah al Quran makhluk atau tidak. Kaum Mu’tazilah yang semula mendapatkan pengaruh besar atas istana, tidak lagi mendapatkan tempat istimewa. Sebaliknya kaum ahli hadits yang semula mendapatkan banyak kesulitan dengan adanya mihnah kini mendapat angin, walaupun tidak berarti bahwa mereka menggantikan posisi lawan mereka yang berpengaruh sebelumnya atas para khalifah. Akan tetapi, al-Mutawakkil juga dikenal dengan sikapnya yang keras terhadap kaum ‘Alawiyyin.

Pada tahun 236 H / 850 M, ia memerintahkan penghancuran makam Husain bin ‘Ali t di Karbala dan melarang orang mengunjunginya. Empat orang penggantinya tidak dapat berbuat banyak untuk kebaikan negara, karena mereka sibuk dengan perebutan kekuasaan. Para perwira Turki lebih banyak mengingat kepentingan mereka sendiri dan bersaing satu sama lain.

Ketika Al-Mu’tamid naik tahta pada tahun 256 H / 870 M, urusan pemerintahan dijalankan oleh adiknya, Al-Muwaffaq, yang berhasil memadamkan pemberontakan kaum Zanj. Ia meninggal pada tahun 1981 M dan sebagai tangan kanan Khalifah digantikan puteranya, Al-Mu’tadlid, yang kemudian naik tahta setelah Al-Mu’tamid meninggal pada 892 M. Pada masa pemerintahannya, dimulai gerakan kaum Qaramithah yang akhirnya menjadi besar pada masa sesudahnya dan menyulitkan Khalifah penggantinya, Al-Muktafi’, yang meninggal pada 908 M.

Masa-masa berikutnya, sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih disebut dengan masa kekuasaan para wazir. Khalifah jarang ikut campur dalam urusan pemerintahan, karena pada dasarnya kekuasaannya hanya bersifat simbolik.

Problematika (Permasalahan) Dalam Pendidikan Islam

Mengapa mutu pendidikan islam kalah dibandingkan dengan pendidikan non-islam ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya :

Kedisiplinan dalam tata tertib dan kurikulum pendidikan, sedangkan pendidikan non-islam cenderung mengikuti perkembangan zaman.

Kesungguhan dalam mengkaji al Quran dan as Sunnah, padahal dalam al Quran itu sendiri sudah tercakup semua aspek dan segi keilmuan.

Keterbatasan finansial pada lembaga pendidikan islam.

Kualitas sumber daya manusia (SDM) para pendidik dalam pendidikan islam kalah dibanding para pendidik pada pendidikan non-islam.

Banyaknya buku dari ilmuwan islam pada zaman dahulu yang dimusnahkan sehingga umat islam masa kini mengalami kesulitan dalam mengkaji sumber referensi keilmuan islami.

 

Mengapa nilai-nilai pendidikan islam belum bisa terwujud secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh 2 hal yang terpenting, yakni :

Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang agama islam itu sendiri.

Pengaruh keimanan pada diri tiap individu yang sering naik turun.

 

Mengapa penyelenggaraan sistem pendidikan islam seakan bersifat apa adanya (tidak profesional) ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Keterbatasan ilmu administrasi dalam kaitannya dengan sistem penyelenggaraan pendidikan islam, berbeda dengan pendidikan non-islam yang telah mempunyai standar sistem pendidikan yang tinggi.

Kurangnya dukungan dari segala pihak yang berhubungan langsung dengan sistem pendidikan islam tersebut dalam rangka memajukan kualitas pendidikan islam.

Kurangnya kebersamaan dan kemauan yang besar dari para penyelenggara sistem pendidikan islam untuk mengembangkan kelembagaan tersebut.

 

Mengapa mayoritas masyarakat berpandangan bahwa pendidikan islam hanya berorientasi pada agama saja ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat secara mendetail tentang pendidikan islam, disamping keberpihakan masyarakat kepada pentingnya pendidikan modern (non-islam).

Karena pendidikan islam dianggap oleh sebagian masyarakat bersifat stagnan (diam di tempat) dan seakan tidak ada kemajuan dan seakan tidak pula ada kemunduran, berbeda dengan pendidikan non-islam yang terus berinovasi dan mengadakan pengembangan yang intensif.

 

Mengapa para pelaksana pendidikan islam kurang bisa menanamkan nilai-nilai agama islam pada anak didiknya ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Kurangnya penerapan dan percontohan dari para pendidik itu sendiri dalam mengaplikasikan segala nilai pendidikan islam dalam keseharian mereka.

Karena adanya keberpihakan para pendidik itu untuk meningkatkan nilai formal semata, tanpa memperhatikan pentingnya akhlaq dari nilai-nilai pendidikan islam tersebut.