Tugas Merancang Jenis dan Bentuk Media Pembelajaran

Pelajaran          : Sejarah Kebudayaan Islam / Tarikh

Kelas               : VII

Semester          : I

Judul               : Sejarah kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.

SK                   : Memahami sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

KD                  : 1. Menjelaskan sejarah Nabi Muhammad s.a.w.

  1. Menjelaskan misi Nabi Muhammad s.a.w. untuk semua manusia dan bangsa

 

No Pesan/Isi Tipe Indikator Metode Media
1 Kaum jahiliyah di Makkah Fakta Siswa mampu mengemukakan gambaran kaum jahiliyah di Makkah yang merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Diskusi

– Peta Makkah

– Gambar ilustrasi kondisi Makkah

2 Mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. bagi para pengasuhnya Fakta Siswa mampu mengidentifikasi mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang dirasakan oleh para pengasuhnya – Tanya jawab

– Presentasi

– Kartu nama-nama pengasuh Nabi
3 Siti Khodijah, istri Nabi Muhammad s.a.w. Fakta Siswa mampu menjelaskan biografi Siti Khodijah sebagai salah satu diantara para istri Nabi Muhammad s.a.w. – Bercerita

– Tanya jawab

– Permainan

– Kartu nama-nama istri dan putra-putri Nabi
4 Penentangan Abu Lahab Terhadap Dakwah Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep, Nilai – Siswa mampu mengkategorikan jenis dakwah Nabi Muhammad s.a.w. terhadap Abu Lahab

– Siswa mampu menyebutkan akhlak Nabi Muhammad s.a.w. ketika mendakwahi Abu Lahab

– Bercerita

– Tanya jawab

– Demonstrasi

– Demonstrasi cara dakwah Nabi
5 Nash al-Quran dan hadits tentang misi Nabi Muhammad s.a.w. Fakta, Konsep,

Nilai

Siswa mampu mengidentifikasi misi Nabi Muhammad s.a.w. dalam ayat al-Quran dan hadits – Tanya jawab

– Diskusi

– Presentasi

– Gambar ilustrasi dakwah para Nabi

REVIEW BUKU (2)

Judul               : EVALUASI HASIL BELAJAR

Penulis             : Dr. Purwanto, M.Pd

Penerbit           : Pustaka Belajar (Yogyakarta)

Tahun              : 2011

 

Sebagai sebuah program, pendidikan memerlukan evaluasi apabila ingin diketahui efektivitasnya.  Evaluasi merupakan pengambilan keputusan berdasarkan hasil pengukuran (pengumpulan data) dan kriterianya. Oleh karenanya kegiatan evaluasi harus didahului dengan kegiatan pengukuran. Dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria, keputusan evaluasi dapat dibuat. Pengukuran dilakukan agar pengambilan keputusan evaluasi dapat diambil secara akurat. Dalam pelaksanaannya, evaluasi dapat berfungsi penempatan, seleksi, diagnostik, dan pengukur keberhasilan.

Berbagai pihak seperti guru, siswa, sekolah, masyarakat dan pemerintah memperoleh manfaat dari kegiatan evaluasi pendidikan. Pengukuran dan evaluasi pendidikan mempunyai sejumlah ciri yaitu bersifat tidak langsung, menggunakan ukuran kuantitatif dan mengandung kesalahan.

Pendidikan merupakan sebuah program yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sistem. Program adalah kegiatan yang akan dilakukan dengan perencanaan dan tujuan yang akan dicapai. Sebagai sebuah program pendidikan memerlukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan program yang direncanakan dapat dicapai. Evaluasi program berhubungan dengan komponen dan aspek yang akan dievaluasi. Terdapat beberapa model pengembangan evaluasi program pendidikan. Perbedaan model terletak pada perbedaannya pada komponen dan aspek yang dievaluasi. Model-model itu adalah model pengukuran, kesesuaian, evaluasi sistem, dan iluminatif. Evaluasi model pengukuran mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif. Model kesesuaian mengevaluasi komponen hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Model evaluasi sistem mengevaluasi semua komponen pendidikan secara terpisah-pisah dan kuantitatif. Model iluminatif mengevaluasi seluruh komponen sebagai sebuah keutuhan secara kuantitatif.

Tujuan pendidikan merupakan perubahan perilaku yang direncanakan dapat dicapai melalui proses belajar mengajar. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dalam domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikomotorik.

Domain-domain dalam perilaku kejiwaan bukanlah kemampuan tunggal. Untuk kepentingan pengukuran hasil belajar domain-domain disusun secara hirarkhis dalam tingkat-tingkat mulai dari yang paling rendah dan sederhana hingga yang paling tinggi dan kompleks. Dalam domain kognitif diklasifikasikan menjadi kemampuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Dalam domain afektif hasil belajar meliputi level: penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan karakterisasi. Sedang domain psikomotorik terdiri dari level: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas.

Untuk memperoleh data yang obyektif, maka pengumpulannya dilakukan dengan cara pengukuran. Pengukuran melakukan pengumpulan data menggunakan alat ukur atau instrument. Dalam pendidikan, pengumpulan data dengan cara melakukan pengukuran juga dapat dilakukan. Pengukuran dilakukan atas atribut yang disebut variabel. Berdasarkan perlu tidaknya instrument factual dan konsep. Sedang menurut penampilan responden dalam memberikan respons atas instrument, variabel dapat berupa variabel tipikal dan maksimal. Instrument pendidikan, seperti juga alat ukur yang lain, harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas.

Tes merupakan salah satu jenis instrument, disamping non-tes. Tes sebagai instrument berhubungan dengan fungsinya untuk mengukur penampilan maksimal. Dalam kegiatan pengukurannya, tes dapat dibagi menjadi dua yaitu tes yang mengukur penguasaan dan tes yang mengukur kemampuan. Tes penguasaan mengukur apa yang telah dikuasai oleh siswa dari materi yang yang telah dipelajari. Dengan kata lain, tes penguasaan mengukur apa yang diperoleh, sedangkan tes kemampuan mengukur apa yang dimiliki.

Tes hasil belajar (THB) merupakan salah satu jenis tes yang mengukur penguasaan. Menurut macamnya, THB terdiri dari tes formatif, sumatif, diagnostik, dan penempatan. Menurut bentuknya, THB dapat berbentuk esai dan obyektif. Komponen THB terdiri dari perangkat, petunjuk pengerjaan, butir soal, pilihan, kunci jawaban dan pengecoh. Dalam pelaksanaannya, THB dapat dilakukan dengan pengamatan, lisan, tertulis atau analisis dokumen karya.

Menilai hasil belajar siswa adalah pengambilan keputusan penting yang menentukan nasib akademik siswa, sehingga harus didasarkan pada data yang tepat dan akurat. Data hasil belajar yang menjadi dasar penilaian haruslah obyektif, bebas dari pertimbangan subyektif dan dapat diuji kembali. Data demikian diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan tes hasil belajar. Data hasil belajar yang baik diperoleh dari pengukuran menggunakan tes hasil belajar yang baik. THB yang baik digunakan setelah melalui proses pengembangan. Pengembangan THB dilakukan melalui beberapa kegiatan: identifikasi hasil belajar, deskripsi materi, pengembangan spesifikasi, penulisan butir dan kunci jawaban, pengumpulan data uji coba, uji kualitas dan kompilasi butir THB.

Sebagai sebuah alat ukur, THB harus memenuhi syarat ukur yang baik yaitu validitas dan reliabilitas. Sebelum pengujian syarat alat ukur yang baik dilakukan, maka terlebih dahulu butir-butir THB harus diuji coba menggunakan analisis butir. Analisis butir dapat dilakukan menggunakan teori klasik atau modern. Oleh karena pertimbangan kepraktisan, tes klasik lebih banyak digunakan dengan beberapa kekurangannya.

Dalam analisis butir menggunakan teori tes klasik, karakteristik butir yang diuji adalah tingkat kesukaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Dalam pengujian itu keputusan butir yang baik didasarkan oleh beberapa kriteria yaitu tingkat kesukaran harus sedang, daya beda harus positif dan tinggi, dan pengecoh harus dipilih paling tidak satu orang peserta tes.

Validitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Validitas berhubungan dengan kemampuan THB untuk mengukur keadaan yang akan diukurnya. Pengujian validitas dapat dikelompokkan menjadi tiga: validitas isi, kriteria dan konstruk. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan cara menelaah butir, meminta pertimbangan ahli dan menghitung korelasi butir dengan total. Pengujian validitas kriteria dapat berupa validitas konkuren dan prediktif. Pengujian validitas konstruk dapat dilakukan dengan menelaah butir, meminta pertimbangan ahli, konvergensi dan diskriminabilitas, multirait-multimethod, dan analisis faktor.

Analisi Faktor (AF) merupakan analisis uji validitas konstruk. Analisis dilakukan dengan menguji butir-butir atau variabel-variabel yang sangat banyak diringkas menjadi faktor-faktor yang lebih sedikit dan sederhana. Peringkasan dilakukan dengan menyatukan butir-butir atau variabel-variabel yang mempunyai varians faktor bersama yang besar ke dalam satu faktor Karena dalam keadaan demikian butir-butir atau variabel-variabel tersebut sebenarnya mengukur dimensi yang sama. Dalam penggunaannya, AF dapat dilakukan secara eksploratif maupun konfirmatif.

AF ditempuh dengan prosedur yang melibatkan beberapa langkah yaitu: menguji kelayakan analisis, menyajikan matriks korelasi, melakukan ekstraksi, melakukan rotasi dan memberi nama faktor. Hasil perhitungan dari langkah-langkah uji akan ditafsirkan. Data dapat dianalisis bila sampel cukup dan berdistribusi normal. Hal itu ditunjukkan oleh koefisien KMO minimal 0,80 dan taraf signifikansi yang ditetapkan dibawah rekomendasi hasil perhitungan. Butir yang mempunyai dimensi sama memiliki eigenvalues minimal 1,00. Sebuah butir memberi dukungan pada sebuah faktor bila mempunyai muatan faktor minimal 0,30. Faktor hasil proses rotasi selanjutnya diberi nama atau label sesuai dengan sifat butir-butir muatannya.

Reliabilitas adalah salah satu syarat THB yang baik. Reliabilitas adalah koefisien yang menunjukkan kemampuan THB untuk memberikan hasil pengukuran yang relatif tetap dan konsisten. Reliabilitas dapat dipandang sebagai stabilitas internal dan konsistensi internal. Metode pengujian yang memandang reliabilitas sebagai stabilitas eksternal adala metode tes ulang dan paralel. Sedang metode yang memandang reliabilitas sebagai koefisien konsistensi internal adalah metode belah dua, Flanagan, Rulon, Kuder Richardson, Hoyt, dan Alpha Cronbach.

Keputusan reliabilitas dilakukan dengan mengonfirmasikan koefisien reliabilitas hasil perhitungan dengan kriteria batas tertentu. Beberapa memandang kriteria itu merupakan batas relatif, beberapa memberikan petunjuk tentang besar koefisien minimal, beberapa yang lain memandang koefisien reliabilitas sebagai koefisien korelasi yang konfirmasi signifikansinya menggunakan tabel.

Disamping koefisien reliabilitas, dalam THB yang digunakan untuk mengukur skor-skor yang akan dibandingkan secara individual, maka untuk menilai kecermatan THB dalam mengukur, perlu dipertimbangkan pula kesalahan standar pengukuran. Kesalahan standar pengukuran merupakan ukuran yang dapat digunakan untuk menilai akurasi skor yang diperoleh dari kegiatan pengukuran.

Data hasil belajar adalah keterangan kuantitatif mengenai hasil belajar siswa. Data itu mencerminkan perubahan perilaku siswa setelah belajar. Data hasil belajar dapat dikelompokkan dalam beberapa macam. Menurut cara pengumpulannya, data hasil belajar dibagi menjadi data primer dan sekunder. Sedang menurut sumber yang menjadi obyek pengumpulan data, data hasil belajar dapat diambil dari sampel atau populasi.

Data hasil belajar dihasilkan dari pengukuran menggunakan THB yang menghasilkan skor. Perhitungan skor dilakukan berdasarkan aturan skoring. Pengumpulan data hasil belajar dilakukan dengan mengubah jawaban peserta tes kedalam ukuran kuantitatif berdasarkan aturan skoring yang ditetapkan. Dalam pengukuran menggunakan THB, aturan skoring yang digunakan sangat dipengaruhi oleh bentuk THB dan ketentuan mengenai denda.

Skor data hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam. Menurut unsurnya, skor dapat berupa skor murni, skor amatan dan skor kesalahan. Sedang menurut jumlah unsurnya, skor dapat berupa skor tunggal atau gabungan.

Statistika membantu mengolah skor data hasil belajar menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam melakukan analisis data hasil belajar, statistika melibatkan proses pengumpulan, penyajian dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur menggunakan tes hasil belajar. Penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel dan grafik, khususnya tabel distributif dan kurva. Pengolahan data dilakukan menggunakan statistika deskriptif khususnya mean dan standar deviasi.

Hasil pengukuran berupa skor belum mempunyai arti untuk dapat digunakan dalam membuat keputusan. Skor hanya bermakna dan dapat digunakan untuk membuat keputusan setelah diubah menjadi nilai melalui proses penilaian. Dalam mengubah skor menjadi nilai, proses penilaian menggunakan skala dan acuan tertentu. Oleh karenanya pemberian makna kepada nilai dalam pengambilan keputusan harus mempertimbangkan skala dan acuan yang digunakan untuk mengubah skor menjadi nilai.

REVIEW BUKU

Judul               : PENGANTAR EVALUASI PENDIDIKAN

Penulis             : Prof. Drs. Anas Sudijono

Penerbit           : PT. RajaGrafindo Persada / Rajawali Pers (Jakarta)

Tahun              : 2011

 

Makna evaluasi dibatasi pada pengertiannya sebagai proses atau kegiatan yang bertujuan memajukan pendidikan dan guna memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan itu. Evaluasi atau penilaian sangat berhubungan erat dengan pengukuran, dimana hasil-hasil pengukuran menjadi sebagian besar sumber dalam menggambarkan evaluasi yang dilakukan pada suatu lembaga pendidikan.

Fungsi penilaian yang penting dalam dunia pendidikan, diantaranya pada aspek psikologis, didaktik dan administratif. Sedangkan pendidikan sendiri mengklasifikasikan penilaian berdasarkan pada tiga hal, yakni fungsinya, penggunaan informasi, dan sesuai asas pertanyaan “dimana atau pada bagian manakah penilaian tersebut dilakukan”. Sedangkan pelaku atau subyek evaluasi pendidikan, bila menyasar pada prestasi belajar, maka ia adalah guru atau dosen yang mengampu mata pelajaran tersebut.

Evaluasi hasil belajar dikatakan akan bisa terlaksana dengan maksimal apabila dalam pelaksanaannya selalu berpedoman dengan tiga prinsip dasar pokok, meliputi prinsip keseluruhan, prinsip kesinambungan dan prinsip obyektivitas. Dan sebaliknya, jika tidak menyertakan ketiga unsur penting tersebut, maka akan menodai kemurnian pekerjaan evaluasi itu sendiri.

Kegiatan evaluasi setidaknya harus memiliki ciri-ciri yang akan membedakannya dengan kegiatan lainnya. Pertama, evaluasi yang dilakukan dalam usaha mengukur tingkat keberhasilan peserta didik itu diukur secara tidak langsung. Kedua, pengukurannya itu mayoritas memakai standar ukuran yang bersifat kuantitatif maupun simbol-simbol angka. Dan ketiga, evaluasi secara umum menggunakan satuan-satuan yang tetap dan konsisten. Dalam praktiknya, evaluasi diawali dengan menyusun evaluasi hasil belajar, menghimpun data, melakukan verifikasi data, mengolah-menganalisis data, memberikan interpretasi maupun menarik kesimpulan, serta diakhiri dengan proses menindak lanjuti hasil evaluasi tersebut.

Tes merupakan cara atau prosedur dalam upaya melakukan pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, sehingga akan dihasilkan nilai yang dapat dilambangkan. Berdasarkan fungsinya, ada beberapa teknik tes untuk mengukur perkembangan dan kemajuan belajar dari peserta didik. Diantara yang tergolong jenis itu adalah tes seleksi, tes awal, tes akhirm tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.

Adapun teknik non-tes dapat dirupakan dalam bentuk pengamatan secara sistematis, melakukan wawancara, menyebarkan angket dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen. Berkebalikan dari kegunaan teknis tes yang berkutat di ranah kognitif peserta didik, maka teknik non-tes ini meliputi ranah afektif dan psikomotorik mereka.

Sebuah tes hasil belajar dapat dikategorikan baik bila memiliki validitas, reliabilitas, obyektifitas dan nilai praktis yang tepat. Karakteristik tersebut lebih sempurna lagi bila disertai dengan lima prinsip dalam menyusun dan membuat sebuah tes hasil belajar. Diantara kelima prinsip itu terdapat prinsip (1) dapat mengukur hasil belajar (learning outcomes) sesuai tujuan instruksional, dan (2) tiap butir soal tes itu merupakan sampel representatif yang mewakili keseluruhan performance yang didapat peserta didik.

Bentuk tes hasil belajar diklasifikasikan dalam dua bentuk, yakni tes uraian dan tes obyektif. Adapun tes uraian atau juga dikenal dengan essay test yang umumnya berbentuk pertanyaan, dimana mengharuskan peserta didik menjawab dengan paparan kalimat yang terkadang agak panjang dan penjelasan yang cukup detail. Dalam menyusunnya, dapat dimulai menyesuaikan dengan ide-ide pokok materi pelajaran, lalu membuat susunan kalimat yang berlainan dengan kalimat pada buku, membuat kunci jawabannya yang terumuskan secara tegas, merancang variasi bentuk kalimat perintah yang cukup beragam, meringkas susunan kalimat soal yang dirasa terlalu panjang dan disertakan pedoman cara mengerjakan soalnya.

Dalam praktiknya, pelaksanaan tes hasil belajar dapat dilakukan secara tertulis, lisan ataupun dengan perbuatan. Ketiga jenis ini sebaiknya dijalankan sesuai dengan pedoman yang benar agar terlaksana secara optimal dan meminimalisir kecurangan peserta didik. Diantaranya ketika tes tertulis, data-data berita acara pelaksanaan tes harus tercatat dan terdokumentasi secara baik. Dan ketika tes perbuatan, setiap tester telah menyiapkan instrument berupa lembar penilaian yang tersusun sistematis dan terencana.

Validitas merupakan salah satu ciri yang menandakan tingkat kebaikan suatu tes hasil belajar. Untuk menentukannya, dapat dilihat dari 2 segi, yakni segi tes itu sendiri sebagai suatu totalitas dan segi itemnya. Dalam mengamati segi totalitasnya, dapat diketahui dengan cara menganalisa dengan jalan berpikir secara rasional dan menganalisa berdasarkan kepada kenyataan empiris melalui empirical analysis. Suatu tes dapat dianalisa kerasionalannya lewat dua hal, meliputi isinya (content) dan susunannya (construct). Sedangkan tingkat empirik tes belajar dapat ditelusuri melalui 2 unsur, yakni daya ketepatan meramalnya (predictive validity) dan bandingannya (concurrent validity).

Item-item dalam tes juga dibutuhkan suatu proses untuk mengetahui tingkat validitasnya. Proses tersebut ialah teknik korelasi sebagai alat analisanya. Sebuah item soal dapat dinyatakan valid jika terbukti memiliki korelasi positif yang cukup signigfikan dengan skor totalnya.

Tes hasil belajar juga sebaiknya memiliki tingkat reliabilitas yang cukup tinggi. Adpapun untuk tes yang berbentuk uraian, dapat diketahui melalui acuan khusus, seperti dengan rumus alpha. Sedangkan untuk tes yang berbentuk obyektif, penentuan reliabilitasnya dijalani melalui tiga macam pendekatan, meliputi single test-single trial, test-retest/single tes-double trial, dan alternate form/double test-double trial.

Beragamnya jenis pelaksanaan tes hasil belajar tentunya akan menuntut adanya keragaman dalam pemeriksaan hasil-hasilnya, sehingga dibutuhkan cara yang tepat dalam mengoreksi dan menilai hasil tersebut secara baik. Penggunaan kunci jawaban sebagai alat koreksi pada tes uraian obyektif setidaknya memiliki 4 model yang bisa dipergunakan, yaitu kunci berdamping (strip keys), kunci sistem karbon (carbon system keys), kunci sistem tusukan (pinprick system keys), dan kunci berjendela (window keys). Adapun tes tulis subyektif, sebaiknya penguji memiliki pedoman yang kuat dan disiplin dalam penerapannya agar nilai yang dihasilkan dapat merepresentasikan penguasaan dan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Pemberian skor merupakan langkah awal dalam pengolahan hasil tes yang selanjutnya akan diubah menjadi nilai-nilai (grade) dengan penggunaan symbol tertentu. Untuk tes uraian, skoring umumnya didasarkan pada bobot setiap butir soal dan tingkat kesukarannya. Perlu diketahui, bahwa di tanah air kita, nilai standar yang dianut pada tingkat dasar dan menengah adalah berskala sebelas (stanel), sedangkan pada tingkat pendidikan tinggi mengacu pada skala lima (stanfive) atau nilai huruf. Penilaian berpatokan atau yang beracuan kriterium dengan standar mutlak sebaiknya diterapkan pada tes yang bersifat standar atau mendekatinya, sehingga akan mampu menghasilkan bukti yang dapat diandalkan ketepatannya, dari segi derajat kesukaran, daya beda, fungsi distraktor, validitas hingga reliabilitasnya.

Identifikasi terhadap setiap butir item tes hasil belajar juga dilakukan pada langkah berikutnya, mengingat pentingnya sekolah mengetahui informasi dalam upaya perbaikan, pembenahan dan penyempurnaan tes-tes di masa mendatang. Karenanya, diadakan suatu pengukuran dengan kualitas yang tinggi yang sering disebut dengan analisis item (item analysis). Penganalisaan ini diterapkan dalam tiga segi, meliputi derajat kesukaran, daya beda dan fungsi distraktor tiap itemnya. Namun yang tidak boleh dilupakan, setelah melakukan analisa item tersebut, seharusnya dapat ditindak lanjuti demi kebaikan dan kemajuan, bila tidak maka dikhawatirkan akan sia-sia belaka.

Tahapan terakhir yang sangat penting pula dilakukan ialah penentuan nilai akhir. Nilai akhir yang baik akan dapat berfungsi pada segi administratif, informatif, bimbingan dan instruksional pada kedua belah pihak, pendidik dan peserta didik. Faktor yang perlu diperhatikan pendidik dalam memberikan nilai akhir diantaranya faktor pencapaian (achievement), usaha (effort), aspek pribadi-sosial (personal and social characteristics) dan kebiasaan kerja (work habbit) dari setiap anak didiknya, sehingga akan diperoleh nilai yang komprehensif.

Adapun penentuan ranking sangat berguna sebagai laporan dan informasi penting untuk pihak-pihak atasan, orang tua peserta didik maupun bagi peserta didik itu sendiri. Dalam praktiknya, penentuan rangking memiliki beberapa jenis, diantaranya ranking sederhana (simple rank) dan ranking persenan (percentile rank). Sebagai hasil nyatanya, salah satu bentuk lain yang umumnya dapat dilakukan ialah dengan membuat profil prestasi belajar. Dengan ini, pendidik akan memperoleh gambaran secara visual mengenai perkembangan dan hasil apa yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

Konsep Tentang Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj yang berarti jalan yang terang, yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Selain itu, kurikulum juga dapat dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai pendidikan.

M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.

Kurikulum dalam pendidikan Islam, berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.

Berdasarkan beberapa definisi dan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar.

— Disadur dari berbagai sumber dan blog terkait —

Problematika (Permasalahan) Dalam Pendidikan Islam

Mengapa mutu pendidikan islam kalah dibandingkan dengan pendidikan non-islam ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya :

Kedisiplinan dalam tata tertib dan kurikulum pendidikan, sedangkan pendidikan non-islam cenderung mengikuti perkembangan zaman.

Kesungguhan dalam mengkaji al Quran dan as Sunnah, padahal dalam al Quran itu sendiri sudah tercakup semua aspek dan segi keilmuan.

Keterbatasan finansial pada lembaga pendidikan islam.

Kualitas sumber daya manusia (SDM) para pendidik dalam pendidikan islam kalah dibanding para pendidik pada pendidikan non-islam.

Banyaknya buku dari ilmuwan islam pada zaman dahulu yang dimusnahkan sehingga umat islam masa kini mengalami kesulitan dalam mengkaji sumber referensi keilmuan islami.

 

Mengapa nilai-nilai pendidikan islam belum bisa terwujud secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh 2 hal yang terpenting, yakni :

Kurangnya pemahaman yang mendalam tentang agama islam itu sendiri.

Pengaruh keimanan pada diri tiap individu yang sering naik turun.

 

Mengapa penyelenggaraan sistem pendidikan islam seakan bersifat apa adanya (tidak profesional) ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Keterbatasan ilmu administrasi dalam kaitannya dengan sistem penyelenggaraan pendidikan islam, berbeda dengan pendidikan non-islam yang telah mempunyai standar sistem pendidikan yang tinggi.

Kurangnya dukungan dari segala pihak yang berhubungan langsung dengan sistem pendidikan islam tersebut dalam rangka memajukan kualitas pendidikan islam.

Kurangnya kebersamaan dan kemauan yang besar dari para penyelenggara sistem pendidikan islam untuk mengembangkan kelembagaan tersebut.

 

Mengapa mayoritas masyarakat berpandangan bahwa pendidikan islam hanya berorientasi pada agama saja ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat secara mendetail tentang pendidikan islam, disamping keberpihakan masyarakat kepada pentingnya pendidikan modern (non-islam).

Karena pendidikan islam dianggap oleh sebagian masyarakat bersifat stagnan (diam di tempat) dan seakan tidak ada kemajuan dan seakan tidak pula ada kemunduran, berbeda dengan pendidikan non-islam yang terus berinovasi dan mengadakan pengembangan yang intensif.

 

Mengapa para pelaksana pendidikan islam kurang bisa menanamkan nilai-nilai agama islam pada anak didiknya ?

Masalah tersebut dikarenakan oleh :

Kurangnya penerapan dan percontohan dari para pendidik itu sendiri dalam mengaplikasikan segala nilai pendidikan islam dalam keseharian mereka.

Karena adanya keberpihakan para pendidik itu untuk meningkatkan nilai formal semata, tanpa memperhatikan pentingnya akhlaq dari nilai-nilai pendidikan islam tersebut.

Korelasi Antara Keluarga, Sekolah Dan Masyarakat Dalam Pendidikan (Tripusat)

BAB I

PENDAHULUAN

 1.1. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan yang luas, peran pihak-pihak yang ahli sangatlah menentukan bagaimana dan kemana arah pendidikan tersebut. Pendidikan akan berjalan sesuai rambu-rambunya dan menghasilkan tujuan yang diharapkan apabila diatur serta dibimbing oleh lingkungan yang baik. Begitu pula sebaliknya, kesalahan dan kecenderungan negatif yang ditimbulkan dari asas pendidikan tersebut kelak akan menimbulkan kemunduran dan kehancuran di bidang pendidikan.

Diantara pihak-pihak yang berperan besar dalam mendidik dan mengarahkan tiap individu menuju arah yang jelas dan benar adalah keluarga, sekolah dan lingkungan. Tiga unsur ini lebih dikenal juga dengan istilah tripusat pendidikan utama bagi tiap pribadi. Dengan segala macam bidang yang termasuk didalamnya, tripusat ini bisa juga menjadi kebutuhan yang wajib dan tidak boleh tidak untuk dijalani demi mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang arif dan bijaksana.

Setiap satu dari ketiga unsur pendidikan tersebut bila dipandang dari kacamata pembentukan pribadi yang kompeten di segala bidang, sangatlah berkaitan erat dan saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Ketiadaan salah satu unsur tersebut dapat menimbulkan ketidak selarasan dan ketidak seimbangan yang akan mengakar hingga pribadi tersebut menjelang masa kedewasaannya kelak.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas ketiga unsur pendidikan utama tersebut dengan kemampuan dan sarana prasarana yang ada. Tulisan yang kami susun ini hanyalah modal awal bagi pemahaman yang luas dalam mendalami keilmuan dalam bidang pendidikan yang kompleks.
1.2. Batasan Masalah

Secara umum permasalahan yang dibahas dalam makalah ini berkaitan dengan tiga unsur utama pendidikan atau yang diistilahkan sebagai tripusat pendidikan.

Adapun permasalahan ini dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan :

a)    Apa saja tripusat pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) itu ?

b)   Apa keterkaitan antara keluarga, sekolah dan masyarakat itu ?

 

1.3. Tujuan Penulisan

Secara umum, tujuan pembahasan mengenai tiga unsur utama pendidikan ini adalah untuk dapat memahami dan mengerti kembali tentang makna atau definisi mendasar tentang keluarga, sekolah dan masyarakat tersebut secara benar dan terarah, sehingga dapat menimbulkan semangat dan harapan baru untuk membangkitkan potensi ketiganya.

Pada sisi lain, dengan pembahasan ini juga diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas para generasi penerus bangsa di masa mendatang dan bisa berperan aktif mewujudkan cita-cita pendiri bangsa ini tanpa memalingkan diri mereka dari ajaran agama dalam hal ini Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh pemimpin sejati yakni Rasulullah SAW.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Keluarga

1.1. Pengertian Keluarga

Secara terminologi, keluarga berasal dari bahasa Sansekerta “kulawarga”. Kata kula berarti “ras” dan warga yang berarti “anggota”. Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.

Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat atau suatu organisasi dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim.

1.2. Tugas Keluarga

Pada dasarnya tugas keluarga dapat dibagi dalam 8 pokok sebagai berikut :

  1. Pemeliharaan fisik keluarga beserta anggotanya
  2. Pemeliharaan sumber daya di dalam keluarga
  3. Pembagian tugas sesuai kedudukan anggotanya
  4. Sosialisasi antar anggotanya
  5. Pengaturan jumlah anggotanya
  6. Pemeliharaan ketertiban anggotanya
  7. Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat luas
  8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya

1.3. Fungsi Keluarga

Keluarga memiliki fungsi-fungsi yang secara umum dirincikan sebagai berikut :

  1. Fungsi Pendidikan
  2. Fungsi Sosialisasi
  3. Fungsi Perlindungan
  4.  Fungsi Perasaan
  5. Fungsi Agama
  6.  Fungsi Ekonomi
  7. Fungsi Rekreatif
  8. Fungsi Biologis
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian,dan rasa aman diaantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.

2. Sekolah

2.1. Pengertian Sekolah

Secara terminologi, “sekolah” merupakan adopsi dari bahasa latin yaitu skhole, scola, scolae atau skhola, yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang. Segala kegiatan di waktu luang bagi anak-anak ditengah-tengah kegiatan utama mereka dikenal dengan sebutan sekolah. Diantara kegiatan itu misalnya belajar tentang berhitung, membaca huruf dan mengenal tentang moral (budi pekerti) dan estetika (seni). Dalam implementasinya, anak-anak didampingi oleh orang yang mengerti dan ahli sehingga dapat memberikan kesempatan yang maksimal untuk menciptakan sendiri dunia keilmuannya kepada masing-masing anak.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia, definisi “sekolah” adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sekolah merupakan sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid dibawah pengawasan guru.

2.2. Jenis Sekolah Secara Umum

Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan inti (formal) yang umumnya wajib dijalani oleh tiap warganya. Yang dikatakan sebagai sekolah dasar adalah diperuntukkan bagi anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan atau sekolah dasar.

Selain sekolah-sekolah inti, siswa di negara tertentu juga memiliki akses untuk mengikuti sekolah-sekolah khusus baik sebelum dan sesudah pendidikan dasar dan menengah. Pra-sekolah atau TK (Taman Kanak-Kanak) menyediakan sekolah bagi anak-anak yang sangat muda (usia 3 sampai 5 tahun). Perguruan tinggi atau universitas dan lembaga kejuruan juga disediakan setelah menamatkan sekolah menengah. Bahkan sering dijumpai sekolah-sekolah yang didedikasikan untuk satu bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tari. Sekolah alternatif tersebut dapat menyediakan kurikulum dan metode non-tradisional secara khusus dan mandiri.

2.3. Bagian-Bagian Sekolah

Secara umum, sekolah memiliki bagian-bagian (ruang-ruang) yang berfungsi sebagai sarana dan prasarana dalam mendukung proses kegiatan belajar dan mengajar. Bagian-bagian tersebut diantaranya :

  1. Kantor
  2. Ruang Kelas
  3. Halaman/Lapangan
  4. Perpustakaan
  5. Ruang Praktik/Laboratorium
  6. Kantin, dll.

3. Masyarakat

Kata “masyarakat” memiliki beberapa definisi, diantaranya:

  1. Orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan
  2. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama
  3. Setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial

Dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekumpulan manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama sehingga dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai sesuatu kekuatan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.

3.1. Unsur Masyarakat

a)    Harus ada perkumpulan manusia dan harus banyak

b)   Telah bertempat tinggal dalam waktu lama disuatu daerah tertentu

c)    Adanya aturan atau undang-undang yang mengatur masyarakat untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama

4. Korelasi Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat

Semenjak seorang anak manusia dilahirkan hingga dewasa, menjadi orang yang mampu berdiri dan bertanggung jawab dalam masyarakat, pasti mengalami apa yang disebut dengan perkembangan. Berbagai macam lingkungan pendidikan yang diterima dan dialaminya akan sangat menentukan dalam hasil perkembangan anak tersebut. Dan macam-macam lingkungan tersebut dapat digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu:

a)         Lingkungan keluarga

b)        Lingkungan sekolah

c)         Lingkungan masyarakat

4.1. Hubungan Keluarga dengan Sekolah

Keluarga merupakan suatu organisasi terkecil dalam masyarakat yang memiliki peranan sangat penting karena membentuk watak dan kepribadian anggotanya. Sedangkan masyarakat itu sendiri terdiri dari keluarga-keluarga. Keluarga lah yang mengawali adanya gagasan untuk terus mewujudkan watak dan kepribadian yang baik dalam kehidupan bermasyarakat yang luas. Maka sekolah adalah salah satu institusi yang membentuk kepribadian dan watak kepada masyarakat. Sekolah tidak akan mampu berdiri bila tidak ada dukungan dari masyarakat. Karenanya, kedua sistem sosial ini harus saling mendukung dan melengkapi. Bila di sekolah dapat terbentuk perubahan sosial yang baik berdasarkan nilai atau kaidah yang berlaku, maka masyarakat pun akan mengalami perubahan yang baik tersebut.

Sebagai wujud sekolah yang menjadi bagian dari masyarakat maka terbentuklah sekolah masyarakat (community school). Sekolah ini bersifat life centered. Yang menjadi pokok pelajaran adalah kebutuhan manusia, masalah-masalah dan proses-proses sosial dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan dalam masyarakat. Masyarakat dibentuk sebagai ruang praktik dimana anak belajar, menyelidiki dan turut serta dalam usaha-usaha masyarakat yang mengandung unsur pendidikan.

4.2. Hubungan Sekolah Terhadap Masyarakat

Pengaruh sekolah terhadap masyarakat tergantung pada penyebaran produk (murid) dan kualitas produk sekolah itu. Semakin luas sebaran produk sekolah di tengah masyarakat, tentu produk tersebut membawa pengaruh positif bagi perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Sekolah juga menjadi lembaga investasi manusiawi. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat. Rendahnya kualitas faktor manusia disetiap masyarakat, akan berpengaruh besar terhadap prestasi yang bisa dicapai oleh masyarakat itu.

Terdapat 4 (empat) macam pengaruh pendidikan sekolah terhadap perkembangan masyarakat, yaitu :

  1. Mencerdaskan kehidupan masyarakat
  2. Membawa pengaruh pembaharuan bagi perkembangan masyarakat
  3. Mencetak warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja di lingkungan masyarakat
  4. Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Hubungan sekolah dan masyarakat memiliki hubungan rasional berdasarkan kebutuhan. Adapun gambaran hubungan rasional diantara keduanya :

  1. Sekolah sebagai lembaga layanan terhadap kebutuhan pendidikan di masyarakat yang membawa konsekuensi-konsekuensi dan konseptual serta teknis yang bersesuaian antar fungsi pendidikan yang diperankan sekolah dengan yang dibutuhkan masyarakat. Untuk menjalankan tujuan pendidikan yang rasional dan ideal, maka sekolah memerlukan mekanisme informasi timbal balik yang rasional, objektif dan realitas dengan masyarakat.
  2. Sasaran pendidikan yang ditangani lembaga sekolah ditentukan kejelasan formulasi kontrak antara sekolah dengan masyarakat. Diperlukan pendekatan komprehensif didalam pengembangan program dan kurikulum untuk masing-masing jenis dan jenjang sekolah.
  3. Pelaksanaan fungsi sekolah dalam melayani masyarakat yang dipengaruhi oleh ikatan-ikatan objektif diantara keduanya. Ikatan objektif tersebut berupa perhatian, penghargaan dan lapangan-lapangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan-jaminan objektif lainnya.

4.3. Hubungan Masyarakat Terhadap Keluarga dan Sekolah

Masyarakat merupakan tempat anak hidup dan belajar kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun di sekolah. Masyarakat sebagai lembaga pendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budaya.

Setiap masyarakat memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki norma-norma. Dimana norma-norma tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warga dan bertindak dan bersikap. Identitas dan perkembangan masyarakat tersebut sedikit banyak akan berpengaruh terhadap sekolah. Pengaruh tersebut baik dalam orientasi dan tujuan pendidikan maupun proses pendidikan itu sendiri, yaitu :

a. Pengaruh masyarakat terhadap orientasi dan tujuan pendidikan

Dalam orientasi dan tujuan pendidikan jelas akan diwarnai oleh masyarakat, mengingat masyarakat merupakan lembaga masyarakat. Identitas suatu masyarakat dan dinamikanya senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan. Hal ini dikarenakan sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh dan untuk masyarakat. Program pendidikan disekolah biasanya tercermin didalam kurikulum, yang dimana kurikulum ini selalu berubah-berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pengaruh identitas suatu masyarakat terhadap program-program pendidikan, biasanya dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan. Hal ini disebabkan setiap masyarakat memiliki ciri khas dalam orientasi dan tujuan pendidikan tersendiri.

b. Pengaruh masyarakat terhadap terhadap proses pendidikan

Berlangsungnya proses pendidikan di sekolah tidak lepas dari pengaruh masyarakat, pengaruh masyarakat yang dimaksud adalah pengaruh sosial budaya dan partisipasinya. Pengaruh sosial budaya biasanya tercermin dalam proses belajar baik yang berkaitan dengan pola aktifitas pendidikan maupun anak didik didalam proses pendidikan. Nilai sosial budaya masyarakat bisa menjadi penghambat dan pendukung terhadap proses pendidikan. Oleh karena itu usaha pembaharuan terhadap proses pendidikan di sekolah, mesti memperhitungkan pengaruh sosial budaya dari masyarakat lingkungannya.

Pengaruh dan peranan masyarakat terhadap sekolah dapat kita simpulkan sebagai berikut :

  1. Sebagai arah dalam menentukan tujuan
  2. Sebagai masukan dalam menentukan proses belajar mengajar
  3. Sebagai sumber belajar
  4. Sebagai pemberi dana dan fasilitas lainnya
  5. Sebagai laboratorium guna pengembangan dan penelitian sekolah

BAB III

PENUTUP

 3.1. Kesimpulan

Dalam pelaksanaan lingkungan inklusif ramah terhadap pembelajaran membutuhkan peran dan tanggung jawab berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak, pihak-pihak tersebut antara lain : masyarakat, guru, dan orangtua.

Masyarakat yang dimaksud adalah orang tua atau wali peserta didik, anggota keluarga yang lain atau semua orang yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Dalam konteks menyeluruh masyarakat merupakan tempat anak hidup dan belajar kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

3.2. Saran

Setelah mempelajari masalah yang membahas keluarga, sekolah dan masyarakat ini kita diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang keterkaitan antara ketiga unsur pendidikan tersebut untuk menuju perubahan paradigma kehidupan yang baik dan terarah. Diharapkan pula agar dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas para penerus bangsa dan bisa berperan aktif mewujudkan cita-cita bangsa ini tanpa memalingkan diri dari ajaran agama dalam hal ini Islam.

DAFTAR PUSTAKA

 Hasbullah. 1999. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan.. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tim Dosen FIP- IKIP Malang. 1987. Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

 

Sumber Internet:

http://www.wikipedia.co.id

http://www.organisasi.org/pengertianmasyarakat

http://www.makalahkumakalahmu.wordpress.com

http://pakguruonline.pendidikan.net

Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK MELALUI FUNGSI EDUKATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

 Oleh

Syaiful Khumaidi

 

Abstrak

Pendidikan semakin mengalami perubahan mengikuti transisi di segala bidang. Pendidikan yang baik menunjukkan kualitas masyarakat di daerah tersebut. Namun tingkah laku dan moral masyarakat pun ikut mengalami pergeseran. Maraknya penodaan moral salah satunya disebabkan buruknya pendidikan. Pendidikan agama islam sebagai pelopor keilmuan memiliki potensi yang besar dalam menanggulangi kemerosotan individu. Pribadi agamis akan mampu meminimalisir akibat buruk dari arus perkembangan yang sangat deras. Karakter agamis sebaiknya dibentuk sejak masa anak hingga mempermudah perjalanan hidupnya kelak.

Kata Kunci: pembentukan, karakter, pendidikan, islam

Pendahuluan

Pergeseran zaman yang cepat mengakibatkan pengembangan dan perubahan pada beragam aspek di berbagai belahan negara. Tak terkecuali aspek pendidikan yang merupakan penanda kualitas dan mutu tiap individu di suatu daerah. Keseluruhan unsur pendidikan pun ikut teraliri arus perubahan yang tak terbendung lagi. Namun seringkali arus perubahan itu ikut merubah moral dan karakter tiap individu.

Semakin maraknya perubahan dan penodaan moral semata-mata dimulai dari kurangnya akhlak atau karakter yang bersifat agamis pada diri seseorang. Seseorang yang mampu menanamkan jiwa yang beragama dengan baik, maka ia dapat menjalani kehidupan multikultural dengan positif. Lain halnya apabila ia kurang berkarakter agamis maka akan dengan mudah melakukan akhlak negatif.

Pendidikan agama islam adalah salah satu cabang aspek pendidikan yang mayoritas dibutuhkan oleh pribadi beragama islam. Ia sebagai pedoman hidup dan merupakan salah satu sarana penanaman karakter yang benar. Didalamnya terdapat contoh-contoh karakter islami yang sangat membantu tiap pribadi dalam menghadapi budaya negatif. Karakter yang baik akan memudahkan pengembangan tiap individu dalam bermasyarakat.

Selain itu, pendidikan agama islam telah mengakar sejak masa lalu hingga sekarang yang tak akan pudar kecuali disebabkan penurunan kualitas pribadi muslim. Dan fakta yang ada mengatakan bahwa individu di zaman sekarang telah mengalami penurunan kualitas dari segi akhlak mereka. Terutama di kalangan pribadi muslim yang seyogyanya menjadi teladan yang baik bagi orang lain.

Karena itu, penulis dalam artikel ini berkeinginan untuk mengungkapan peranan dan efektifitas membentuk karakter dasar anak yang benar melalui fungsi edukatif pendidikan agama islam. Hal ini disebabkan karakter individu sangat dipengaruhi oleh apa yang diterima oleh tiap seseorang sejak masa kecilnya.

 

Pembentukan Karakter Anak

“Karakter” merupakan akar kata dari bahasa latin yang berarti dipahat (Mark Rutland: 2009, 3). Kehidupan seperti balok besi bila dipahat dengan penuh kehati-hatian akan menjadi mahakarya agung. Maka, karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai pendorong dan penggerak serta membedakannya dengan yang lain.

Dalam upaya mendidik karakter anak, harus disesuaikan menurut dunia anak tersebut. Yakni selalu selaras dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pembentukan karakter diklasifikasikan dalam 5 tahapan yang berurutan dan sesuai usia.

Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal mana yang baik dan yang buruk, serta mengenal mana yang diperintahkan.

Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri, antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secara mandiri, serta dididik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan sholat mereka.

Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian, antara usia 9 sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama, serta mau membantu orang lain.

Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya.

 

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan berasal dari kata “didik” yang berarti melatih atau mengajar. Sedangkan menurut istilah, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Agama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau atau teratur. Agama dapat membebaskan manusia dan kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya. Menurut terminologi agama adalah suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung.

Islam berasal dari bahasa arab berarti selamat sentosa. Sedangkan secara umum adalah agama yang disyari’atkan oleh Allah dengan perantaraan para Nabi dan RasulNya, yang mengandung perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan diakhirat.

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah ilmu yang membahas pokok-pokok keimanan kepada Allah, cara beribadah kepada-Nya, dan mengatur hubungan baik sesama manusia, serta makhluk lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

 

Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam (PAI) mempunyai beragam fungsi atau kegunaan yang sangat luas. Salah satu fungsi terdepan dalam pendidikan agama islam adalah dalam bidang edukasi. Yaitu, pendidikan agama islam selalu mengajarkan dan membimbing semua umatnya agar senantiasa mampu menonjolkan dan mempraktekkan sikap maupun segala jenis tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia juga mendorong setiap individu untuk selalu patuh dan taat serta mengimplementasikan ajaran dan perintah agama

 

Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam sejak dini akan sangat efektif dalam segi edukatifnya untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak yang baik. Ini karena di dalam sebuah ruang lingkup keluarga dibutuhkan keharmonisan dan keseimbangan antar anggotanya. Peran pribadi yang senior diharuskan memberi pelajaran yang junior dan sesuai dengan porsinya sehingga dapat membawa angin perubahan menuju sesuatu yang positif.

Dipandang dari segi keterkaitannya, pembentukan karakter dasar seorang anak sejak dini tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang diajarkan dalam sisi edukatif pendidikan agama islam. Telah begitu banyak bukti dan realita yang benar-benar membuktikan secara nyata bahwasannya pembelajaran pendidikan agama islam berperan besar dan mayoritas mampu mengantarkan tiap individu agamis menghadapi kesulitan dan problematika yang ada dengan arif dan bijaksana.

 

Penutup

Dari makalah ringkas ini, dapat diambil kesimpulan bahwasannya terdapat hubungan timbal balik dan saling berkebutuhan antara pembentukan karakter anak dengan fungsi edukatif pendidikan agama islam (PAI). Ini dapat dilihat dari adanya beberapa keterkaitan antara keduanya.

Keterkaitan tersebut dapat diklasifikasikan dalam 1) keberadaan dalil-dalil otentik dari al quran ataupun hadits yang menunjukkan tentang anjuran dan perintah untuk mendidik karakter anak sejak dini. 2) Karakter pendasaran anak yang terbaik adalah sesuai dengan porsi atau tahapan pemikiran anak tersebut yang bisa ditandai melalui usianya. 3) Fungsi edukatif pendidikan agama islam merupakan solusi terbaik untuk menanamkan karakter atau akhlak yang benar sehingga dapat berguna dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks di masa depan.

 

Saran

Setelah mempelajari makalah ringkas ini kita diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang pentingnya pembentukan karakter anak sejak dini secara benar untuk menuju kehidupan bermasyarakat yang penuh intrik dan multikultural. Diharapkan pula agar dapat menjadikan pendidikan agama islam yang diperoleh sebagai salah satu upaya untuk merubah karakter yang ada, baik ataupun buruk, menjadi lebih baik lagi dan bermanfaat di dunia dan akhirat

 

 

 

 

 

Daftar Rujukan

 

Abdul Chalik & Ali Hasan Siswanto. 2011. Pengantar Studi Islam. Surabaya: Kopertais IV Press.

Irawati Istadi. 2006. Mendidik Dengan Cinta. Bekasim.

M. Fauzi AG. 2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII. Jakarta.

M. Furqon Hidayatullah. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Mark Rutland. 2009. Karakter Itu Penting Terjemahan Ly Yen. Jakarta.